SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) menetapkan status siaga bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama 185 hari atau sekitar 6 bulan lebih, mulai 8 April hingga 10 Oktober 2026.

"Diputuskan sejak besok, tanggal 8 April, Kabupaten Kotim menetapkan status siaga karhutla dan siaga bencana kekeringan, ini langsung sekaligus dua bencana," kata Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam, Selasa, 7 April 2026.

Hal tersebut ia sampaikan setelah rapat koordinasi lintas sektor terkait bencana karhutla dan kekeringan yang dipimpin oleh Pj Sekretaris Daerah (Sekda) Kotim Umar Kaderi.

Multazam menjelaskan, ditetapkan status siaga 2 bencana tersebut karena banyak variable dari sektor lain yang perlu menjadi atensi. Salah satunya bencana yang muncul akibat kemarau yaitu kekeringan.

Penetapan status tersebut juga dilaksanakan lebih awal pada awal Mei yang masih pada musim peralihan (pancaroba). Agar seluruh sektoral yang terdampak pada bencana karhutla dan kekeringan bersiap-siap untuk memetakan pembiayaan rutin. 

"Siaga itu bagian dari kesiap siagaan, jadi waktu yang panjang ini. Nanti apabila terjadi kedaruratan dengan sesuai parameter yang kita miliki, kita akan naikkan status menjadi tanggap," tambahnya. 

Ia menjelaskan, saat ini masih banyak terjadi kebakaran di daerah-daerah lahan sejak bulan Januari hingga Maret 2026 di wilayah selatan. Hal itu menjadi perhatian agar masyarakat tidak beraktifitas membuka kebun. 

"Tentunya dengan kehadiran camat kita berharap fungsi-fungsi sosialisasi awal untuk mereka memberi pengetahuan bahwa membakar lahan itu akan berdampak banyak hal, termasuk kekeringan," ujarnya. 

Terkait bencana kekeringan, Perumdam Tirta Mentaya memaparkan dalam rapat koordinasi tersebut bahwa akses air bersih, air baku hanya sampai Sungai Ijum, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan. Selanjutnya ke arah selatan sampai ke ujung Pandaran tidak tersedia air baku. 

"Pada umumnya, berdasarkan time series data kita, itu di Ujung Pandaran itu biasanya masyarakat paling bisa bertahan 7 sampai 14 hari dengan menggunakan air hujan, selebihnya mereka akan kekurangan air. Impact-nya pada kesehatan. kita tidak ingin menjadi KLB, kejadian luar biasa," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)