BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) terus mempercepat ketahanan pangan melalui Pengembangan Sistem Integrasi Sapi Sawit (SISKA) yang diintegrasikan dengan program Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar (FPKMS). Program tersebut merupakan hasil sinergi antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah dan Kementerian Pertanian, yang ditindaklanjuti oleh Pemerintah Daerah untuk memperkuat produksi lokal dan pemenuhan kebutuhan protein masyarakat.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim, Yephi Hartadi, menjelaskan bahwa Pemerintah Provinsi telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kementerian Pertanian, khususnya antara Dirjen Perkebunan dan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan.
“Dari MoU itu, provinsi memerintahkan kepala daerah untuk menindaklanjuti dengan pelaksanaan MoU tingkat dua dengan perusahaan perkebunan besar swasta (PBS), yang merupakan sentra potensial untuk mengembangkan program SISKA,” ujarnya, Jumat, 10 April 2026.
Pada kesempatan tersebut ia menilai bahwa FPKMS atau Fasilitasi Pembangunan Kebun Masyarakat Sekitar menjadi fondasi penting dalam pengembangan program tersebut. FPKMS tidak mesti untuk program plasma 20 persen, namun juga dapat dimanfaatkan untuk program lain yang lebih membangun Kabupaten Kotawaringin Timur salah satunya SISKA.
Lebih lanjut ia menyebut jika program tersebut dilakukan BPS dengan masyarakat maka bisa saja yang sebelumnya plasma diganti dengan ternak. Sehingga koperasi atau kelompok tani nanti yang akan mengelola peternakan dari program SISKA itu.
“Belum lama ini ada rapat dengar pendapat (RDP) yang membahas tentang FPKMS 20 persen. FPKMS itu berbeda dengan plasma. FPKMS cakupannya jauh lebih luas dan manfaatnya bisa dirasakan tidak hanya untuk kesejahteraan saja, tapi juga bisa menjadi sentra produksi atau usaha ekonomi kreatif serta kemitraan lainnya,” jelas Yephi.
Ia menegaskan bahwa program ini sangat krusial bagi Kotawaringin Timur yang memiliki populasi besar di Kalimantan Tengah. Jumlah penduduk tersebut tentu juga berpengaruh terhadap tingkat konsumsi protein yang relatif tinggi pula.
“Dengan program SISKA ini, harapannya pemenuhan protein lokal di Kotawaringin Timur bisa terpenuhi secara optimal, sehingga mendukung ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi komunitas,” tambahnya.
Program SISKA yang dijalankan lewat FPKMS diharapkan mampu memperkuat produksi pangan lokal tidak hanya terbatas pada produk perkebunan seperti sawit plasma, tetapi juga di sektor peternakan dan sumber protein lainnya sehingga menciptakan diversifikasi makanan yang berkualitas dan berkelanjutan di masyarakat.
“Kami juga akan mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat agar memahami perbedaan FPKMS dan plasma serta memaksimalkan peluang kemitraan untuk kemajuan daerah,” tutup Yephi.
Melalui langkah kolaboratif dan pemanfaatan sumber daya lokal yang optimal, Program SISKA pada FPKMS diyakini mampu membangun ketahanan pangan yang tangguh dan berkelanjutan di Kabupaten Kotawaringin Timur. (DEVIANA/y)









