SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Pemerintah Kabupaten Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, melalui Dinas Kesehatan (Dinkes), mematangkan persiapan menghadapi kemarau panjang, yang diikuti potensi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kekeringan, dengan menyiagakan tenaga medis dan logistik.

“Kami menyiapkan tenaga kesehatan dan logistik yang diperlukan terkait dengan penanggulangan bencana, khususnya karhutla yang biasa berdampak pada peningkatan kasus penyakit, terutama ISPA dan diare,” kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho di Sampit, Senin.

Berdasarkan data dari BMKG, kata dia, Kotim akan mengalami perubahan iklim sesuai dengan peralihan musim dari musim hujan ke musim kemarau, termasuk adanya fenomena El Nino dan ini berdampak pada banyak hal.

Pertama, menurutnya, kondisi cuaca seperti ini kerap berdampak pada penurunan kualitas dan kuantitas air bersih yang merupakan kebutuhan vital bagi manusia, sehingga dampaknya sangat terasa terhadap kesehatan, seperti penyakit diare.

Kedua, sehubungan dengan potensi karhutla yang biasanya diikuti dengan penurunan kualitas udara. Debu dan asap bertebaran di mana-mana menyebabkan masalah saluran pernafasan.

Selanjutnya peningkatan penyakit faktor nyamuk dan lalat. Khususnya untuk nyamuk, perkembangbiakannya cenderung meningkat saat pancaroba, sehingga potensi penularan penyakit dari nyamuk pun meningkat.

Langkah konkret sebagai upaya mitigasi tersebut, kata dia, berupa penyiagaan personel di seluruh fasilitas kesehatan yang tersebar di wilayah Kotim, meliputi 22 puskesmas dan tiga rumah sakit guna mengantisipasi lonjakan pasien.

Kemudian memastikan ketersediaan logistik. Dinkes Kotim mencatat stok masker saat ini masih dalam kategori aman, bahkan jika terjadi peningkatan kasus hingga tiga kali lipat.

Berdasarkan data teknis, kata dia, tersedia 780 kotak masker anak dan 1.200 kotak masker dewasa yang masing-masing berisi 50 lembar.

“Untuk penanggulangan diare, stok zinc cukup, tapi untuk oralit sedang kurang, dan sudah kami mintakan ke provinsi. Karena pengentasan diare merupakan program pusat, maka pasokannya kami koordinasikan melalui provinsi,” kata Nugroho Kuncoro Yudho.

ANTARA