BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) menyiapkan berbagai langkah strategis untuk mencegah terjadinya gagal panen akibat kemarau panjang yang diprediksi melanda wilayah tersebut.
Bupati Kotim Halikinnor menyampaikan bahwa perubahan cuaca ekstrem berpotensi memengaruhi hasil produksi pertanian. Meski demikian, pemerintah berupaya agar dampaknya tidak terlalu besar.
"Dari paparan dinas terkait, kondisi ini pasti berpengaruh terhadap produksi. Namun, Kementerian Pertanian sudah menyiapkan langkah antisipasi, salah satunya melalui penggunaan varietas padi unggul yang tahan terhadap musim kemarau," ujarnya, Rabu, 29 April 2026.
Ia menegaskan, pemerintah daerah bersama pemerintah pusat telah menyusun sejumlah langkah mitigasi guna menjaga ketahanan pangan di tengah ancaman kekeringan.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kotim, Yephi Hartady Periyanto, menjelaskan bahwa sejumlah wilayah sentra pertanian, khususnya di Kecamatan Teluk Sampit seperti Desa Lampuyang dan Desa Parebok, telah menerapkan penggunaan varietas padi yang relatif tahan terhadap kondisi lingkungan.
Menurutnya, selain varietas lokal seperti Siam Epang, petani juga banyak menggunakan varietas unggulan seperti Inpago 8, Inpari 32, dan Inpari 42.
"Varietas tersebut cukup adaptif dengan kondisi lahan di daerah kita, termasuk saat mulai terjadi kekeringan," kata Yephi.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa varietas unggul tidak sepenuhnya mampu mengatasi dampak cuaca ekstrem jika kekeringan berlangsung lama tanpa adanya pasokan air.
"Kalau kekeringan terjadi secara total dan tidak ada suplai air, tentu semua varietas akan terdampak," tambahnya.
Untuk itu, pemerintah kini memprioritaskan penguatan sarana pengairan sebagai langkah utama mitigasi. Program tersebut mencakup penyediaan irigasi pompa dan sistem perpipaan guna memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian.
"Fokus utama saat ini adalah menyiapkan unit irigasi pompa dan perpipaan agar suplai air tetap tersedia ketika kemarau panjang terjadi," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









