BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Pemkab Kotim) terus mengintensifkan upaya penurunan angka stunting yang masih berada di angka 21,6 persen melalui sinergi berbagai pihak, mulai dari perusahaan dengan program tanggung jawab sosial (CSR) hingga pemerintah desa.
Penjabat Sekretaris Daerah Kotawaringin Timur, Umar Kaderi, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci penting dalam menekan prevalensi stunting yang masih tergolong tinggi.
“Selama ini kami sudah beberapa kali berkomunikasi dengan pihak perusahaan dan desa. Mereka sudah menyisihkan sebagian dana CSR dan dana desa, meskipun angkanya belum terlalu besar,” ungkap Umar Kaderi, Selasa, 12 Mei 2026.
Menurutnya, peran perusahaan sangat vital dalam membantu pencegahan stunting, khususnya di wilayah operasional mereka. Namun, kontribusi yang ada saat ini masih dinilai belum terstruktur dan belum menjangkau seluruh wilayah secara menyeluruh.
“Perusahaan sudah berkontribusi, tetapi masih terbatas di sekitar wilayahnya masing-masing. Ini yang terus kita dorong agar bisa lebih maksimal,” tuturnya.
Selain dukungan pembiayaan, Pemkab Kotim juga melaksanakan berbagai program penanganan stunting seperti pemberian makanan tambahan oleh puskesmas, peran aktif kader posyandu, serta intervensi kesehatan lainnya guna mencegah kasus stunting baru dan menangani kasus yang sudah ada.
“Kita berharap dengan pemberian makanan tambahan dan intervensi yang dilakukan, tidak muncul lagi kasus stunting baru, dan yang sudah ada bisa ditangani,” kata Umar.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa penurunan stunting tidak dapat dikerjakan sendiri oleh satu atau dua organisasi perangkat daerah (OPD), melainkan membutuhkan sinergi intensif dari seluruh pihak, termasuk kecamatan, desa, dan masyarakat secara keseluruhan.
“Harapan kita ada komitmen bersama dari camat, kepala desa, dan seluruh stakeholder untuk bersama-sama memerangi stunting di Kotim,” tegasnya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa tantangan di lapangan tidak hanya terkait terbatasnya anggaran, tetapi juga rendahnya kesadaran masyarakat serta kondisi ekonomi yang turut memengaruhi pola hidup sehat.
“Keinginan masyarakat sebenarnya besar, tetapi pemahaman masih kurang, ditambah kondisi ekonomi yang menjadi tantangan,” jelasnya.
Dengan upaya kolaborasi yang lebih terstruktur dan berkesinambungan, Pemkab Kotim optimis angka stunting dapat ditekan hingga mendekati target nasional di kisaran 14 hingga 15 persen.
Langkah strategis itu diharapkan dapat mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kotim melalui peningkatan status gizi dan kesehatan anak sejak dini. (DEVIANA/H)









