SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) melalui Dinas Pendidikan (Disdik) menyiapkan lahan 20 hektare di kawasan Jalan Sawit Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang untuk usulan pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

"Untuk pengusulan SNT, luas lahan yang diminta sekitar 20 hektare dan itu sudah kami siapkan. Lokasinya berada di kawasan Jalan Sawit Raya," kata Kepala Disdik Kotim Yolanda Lonita Fenisia, Jumat, 5 Juni 2026.

Ia menjelaskan, Sekolah Nasional Terintegrasi merupakan konsep kawasan pendidikan yang dirancang pemerintah pusat untuk meningkatkan pemerataan kualitas pendidikan. Dalam satu kawasan, tersedia layanan pendidikan mulai dari PAUD, SD, SMP hingga SMA atau SMK yang dikelola secara berkesinambungan.

Menurutnya, banyak masyarakat yang masih menyamakan SNT dengan Sekolah Rakyat (SR). Padahal kedua program tersebut memiliki perbedaan mendasar, baik dari kementerian pengampu maupun sasaran peserta didiknya.

"SNT merupakan program Kemendikdasmen, sedangkan Sekolah Rakyat berada di bawah Kementerian Sosial. Kalau Sekolah Rakyat diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dan miskin, maka SNT terbuka bagi peserta didik berprestasi dari berbagai latar belakang sosial ekonomi," ujarnya.

Yolanda menambahkan, pemilihan kawasan Jalan Sawit Raya sebagai lokasi usulan dilakukan berdasarkan kebutuhan pendidikan di wilayah tersebut yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk.

Saat ini, kawasan tersebut hanya memiliki satu sekolah menengah pertama negeri yang harus menampung lulusan dari sejumlah sekolah dasar di sekitarnya. Kondisi itu dinilai perlu diantisipasi dengan penambahan fasilitas pendidikan baru.

"Wilayah itu berkembang cukup pesat dan pemukimannya semakin padat. Kehadiran SNT diharapkan bisa memperluas akses pendidikan sekaligus mengurangi kepadatan peserta didik di sekolah yang sudah ada," tambahnya.

Selain itu, pembangunan sekolah baru juga akan mendukung penerapan sistem zonasi karena jarak antara tempat tinggal siswa dan sekolah menjadi lebih dekat.

Disdik Kotim saat ini masih menunggu hasil verifikasi dan validasi lapangan yang telah dilakukan tim dari Direktorat SMA Kemendikdasmen beberapa waktu lalu. Hasil penilaian tersebut akan menentukan apakah lokasi yang diusulkan memenuhi seluruh persyaratan teknis.

"Kami masih menunggu hasil penetapan dari tim kementerian. Beberapa minggu lalu mereka sudah turun ke lapangan untuk melakukan verifikasi dan validasi," katanya.

Yolanda berharap usulan pembangunan SNT di Kotim mendapat persetujuan dari pemerintah pusat karena keberadaan sekolah tersebut diyakini mampu meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus menambah daya tampung peserta didik.

"Harapannya jika SNT bisa dibangun di Kotim, maka akan memberikan dampak positif bagi dunia pendidikan. Selain meningkatkan kualitas pembelajaran, sekolah ini juga dapat menampung lebih banyak peserta didik, khususnya di kawasan yang pertumbuhan penduduknya cukup tinggi," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)