BORNEONEWS, Sampit – Kepala Kantor Otoritas Bandar Udara (Otban) Wilayah VII Balikpapan Ferdinan Nurdin meminta Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjaga keberlanjutan penerbangan Super Air Jet Airbus A320 di Bandara H Asan Sampit.
"Mendatangkan pesawat itu sulit, tapi mempertahankan itu lebih sulit. Ini terbukti peninggalan-peninggalan saya yang pernah saya pimpin di beberapa instansi," kata Ferdinan Nurdin saat menghadiri penerbangan perdana Super Air Jet di Bandara H Asan Sampit, Jumat, 12 Juni 2026.
Menurut Ferdinan, keberlangsungan operasional maskapai membutuhkan dukungan dan kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, pengelola bandara hingga masyarakat sebagai pengguna jasa penerbangan.
Ia menjelaskan, industri penerbangan saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, salah satunya tingginya biaya operasional seperti harga avtur. Meski demikian, pemerintah pusat telah menerbitkan sejumlah kebijakan untuk membantu maskapai agar tetap dapat beroperasi secara sehat.
"Maskapai ini, Pak Bupati, mereka kesulitan dengan harga avtur, kami memahami itu. Tapi pemerintah tidak tinggal diam, kita sudah mengeluarkan suatu subsidi-subsidi kebijakan yang mana tadi supaya teman-teman maskapai itu tidak merugi. Tidak ada maskapai yang mau rugi. Tidak ingin ada maskapai yang buntung dia datang beroperasi," ujarnya.
Ferdinan menekankan pentingnya sinergi semua pihak dalam menjaga keberlanjutan penerbangan di Sampit. Menurutnya, pengelola bandara tidak bisa bekerja sendiri tanpa dukungan pemerintah daerah dan masyarakat.
"Di sinilah namanya dibutuhkan kolaborasi dan sinergi. Bentuklah menjadi super tim bagaimana mempertahankan penerbangan yang ada di Bandara Sampit dalam melayani masyarakat ini bisa bertahan dan sustainable, berkelanjutan," tambahnya.
Ia juga menilai langkah Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim bersama pihak bandara menghadirkan Super Air Jet merupakan keputusan yang tepat. Sebab, maskapai yang berada di bawah Lion Group tersebut memiliki jaringan penerbangan yang luas, baik domestik maupun internasional.
"Jadi, kita patut bersyukur, bergembira, Super Air Jet mungkin pertama kali datang di Kalimantan Tengah khususnya di Bandara H Asan Sampit ini, tolong saya titip jaga baik-baik agar mereka berkelanjutan," katanya.
Selain mendukung mobilitas masyarakat, Ferdinan melihat peluang besar pengembangan sektor perjalanan ibadah umrah dari Sampit. Dengan jaringan Lion Group yang luas, konektivitas penerbangan umrah dinilai dapat semakin mudah.
"Saya melihat potensi yang ada di sini adalah umrah. Jadi, nanti kalau dengan Super Air Jet bisa dikoneksikan penerbangannya dengan menggunakan Lion Group," ujarnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan ada tiga faktor utama yang dapat mendorong harga tiket pesawat menjadi lebih kompetitif bagi masyarakat. Pertama, rute dilayani pesawat jet, kedua penerbangan dilakukan secara langsung tanpa transit, dan ketiga adanya persaingan antar maskapai.
Menurut Ferdinan, ketiga faktor tersebut kini mulai terpenuhi dengan hadirnya Super Air Jet yang akan bersaing dengan maskapai lain pada rute Sampit-Jakarta. Persaingan sehat diharapkan mampu memberikan pilihan yang lebih baik bagi masyarakat tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan keamanan penerbangan.
Ia berharap, operasional Super Air Jet di Bandara H Asan Sampit dapat berlangsung secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat besar bagi pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan konektivitas Kotim dengan berbagai daerah di Indonesia. (DEWI PATMALASARI/y)









