BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) segera menurunkan tim teknis untuk mengecek kondisi jalan di Desa Soren, Kecamatan Kota Besi yang viral di media sosial karena mengalami kerusakan parah dan kerap sulit dilalui saat musim hujan.
"Sebagai tindak lanjut awal atas laporan tersebut, tim teknis Bidang Bina Marga akan kami turunkan untuk melakukan peninjauan dan pengecekan kondisi lapangan guna memperoleh data serta informasi yang diperlukan sebagai bahan kajian lebih lanjut," kata Kepala Dinas SDABMBKPRKP Kotim Mentana Dhinar Tistama melalui Kepala Bidang Bina Marga Nur Aina, Selasa, 23 Juni 2026.
Laporan terkait kerusakan jalan Desa Soren juga telah diterima melalui aplikasi SP4N Lapor. Pemerintah daerah mengapresiasi kepedulian masyarakat yang aktif menyampaikan kondisi infrastruktur di wilayahnya.
"Terkait jalan di Desa Soren, laporan sudah masuk melalui SP4N Lapor. Kami berterima kasih kepada masyarakat atas informasi yang disampaikan. Rencananya besok tim kami akan turun langsung ke lokasi," ujarnya.
Ia menjelaskan, kunjungan lapangan diperlukan untuk memastikan kondisi sebenarnya serta mengumpulkan berbagai data yang dibutuhkan sebelum menentukan langkah penanganan lebih lanjut.
"Kami perlu melihat langsung seperti apa kondisinya. Setelah tim turun ke lapangan, kami akan mengetahui informasi dan kajian apa saja yang diperlukan untuk menentukan tindak lanjut berikutnya," katanya.
Namun demikian, Nur Aina menjelaskan bahwa status kawasan menjadi salah satu aspek penting yang harus dipastikan terlebih dahulu. Jika ruas jalan tersebut berada di dalam kawasan hutan atau wilayah yang memiliki keterbatasan tata ruang, maka penanganannya harus mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan.
"Karena itu kami perlu memastikan kondisi dan status kawasannya," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Soren, Subhanur, mengungkapkan warga telah merasakan buruknya kondisi jalan tersebut selama puluhan tahun. Jalan sepanjang sekitar 7 kilometer yang menghubungkan Camba dan Soren sering berubah menjadi kubangan lumpur saat musim hujan, bahkan terkadang tidak bisa dilalui sama sekali.
Ia menjelaskan, jalan tersebut pertama kali dibuka pada 1998 dan menjadi akses penting yang menghubungkan sejumlah desa, mulai dari Kandan, Camba, Soren hingga Simpur. Namun sebagian ruas jalan khususnya penghubung Camba-Soren disebut berada di kawasan hutan dan sebagian lainnya masuk dalam wilayah Hak Guna Usaha (HGU) perusahaan.
"Dulu belum ada kawasan hutan. Setelah ada penetapan kawasan, jalan itu masuk wilayah HPK. Selain itu sebagian juga berada dalam HGU perusahaan. Ini yang menjadi kendala pemerintah daerah untuk melakukan perbaikan maupun menganggarkan pembangunan," ujar Subhanur.
Ia menjelaskan, ruas Kandan-Camba saat ini sudah beraspal. Namun ruas Camba-Soren dan Soren-Simpur masih mengalami kerusakan berat sehingga menyulitkan mobilitas masyarakat, terutama saat musim hujan.
"Yang paling bermasalah itu ruas Camba-Soren karena sekitar tiga kilometer masuk kawasan dan HGU," katanya.
Subhanur menambahkan, persoalan jalan tersebut telah berulang kali diusulkan melalui musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang), baik pada masa kepemimpinannya maupun kepala desa sebelumnya. Namun hingga kini belum ada solusi konkret karena terkendala status kawasan.
"Kami berharap pemerintah dapat mengupayakan pembebasan atau penyelesaian status kawasan terlebih dahulu agar jalan ini bisa ditingkatkan. Selama delapan tahun saya menjadi kepala desa, usulan ini selalu disampaikan setiap tahun, tetapi belum bisa ditindaklanjuti karena persoalan kawasan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









