BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) akan menerima 83 unit perangkat internet satelit Starlink dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Tengah (Kalteng) untuk memperluas akses internet di desa-desa yang masih mengalami keterbatasan jaringan.
"Data yang kami miliki sampai April 2025 masih ada lima desa yang mengalami blank spot. Kendala utamanya adalah kondisi geografis dan belum tersedianya infrastruktur pendukung, termasuk jaringan listrik PLN, sehingga memperlambat pembangunan jaringan internet," kata Kepala Diskominfo Kotim Cok Orda Putra Legawa, Jumat, 31 Juli 2026.
Ia menjelaskan, berdasarkan informasi dari Dinas Kominfo Provinsi Kalimantan Tengah, Kotim akan memperoleh 83 unit Starlink dari usulan sebelumnya sebanyak 66 paket. Bantuan tersebut diprioritaskan untuk wilayah utara Kotim yang selama ini mengalami keterbatasan akses internet.
"Sebagian besar unit Starlink akan ditempatkan di wilayah utara yang selama ini mengalami kendala jaringan. Kami berharap bantuan dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah ini mampu mempercepat pemerataan layanan internet hingga ke desa-desa," ujarnya.
Menurut Cok Orda, penggunaan Starlink idealnya didukung jaringan listrik PLN. Namun apabila belum tersedia, perangkat masih dapat dioperasikan menggunakan panel surya meski membutuhkan tambahan sarana pendukung.
Ia menambahkan, bantuan dari pemerintah provinsi hanya berupa perangkat. Sementara biaya operasional layanan internet nantinya diharapkan dapat ditanggung pemerintah desa dengan dukungan perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
"Perangkatnya disediakan pemerintah provinsi, sedangkan biaya layanan diharapkan dapat didukung pemerintah desa. Kami juga berharap perusahaan melalui program CSR bisa membantu agar masyarakat semakin mudah memperoleh akses internet," katanya.
Cok Orda menjelaskan, istilah blank spot tidak selalu berarti sama sekali tidak memiliki jaringan. Di beberapa desa sinyal sebenarnya sudah tersedia, namun cakupannya masih sangat terbatas sehingga banyak warga kesulitan mendapatkan koneksi internet yang stabil. (DEWI PATMALASARI/y)









