BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotawaringin Timur (Kotim) memperpanjang status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan hingga 15 September 2026. Perpanjangan dilakukan karena titik api masih bertambah dan kondisi cuaca panas diperkirakan berlanjut hingga September.
"Jadi yang pertama kita mengevaluasi terhadap status kita tanggap darurat ini. Ternyata berdasarkan hasil yang dilaporkan pelaksana harian satgas bahwa titik api setiap hari bertambah," kata Bupati Kotim Halikinnor, Senin, 24 Agustus 2026.
Evaluasi juga mempertimbangkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai kondisi cuaca yang masih cenderung panas hingga September.
"Sehingga kita menyepakati untuk status tanggap darurat terakhir tanggal 26 Agustus itu kita perpanjang. Kita perpanjang lagi sambil kita mengkaji lagi hal itu," ujarnya.
Menurut Halikinnor, pemerintah daerah telah mengerahkan berbagai unsur untuk menangani karhutla. Personel dari organisasi perangkat daerah (OPD), TNI, Polri, Basarnas hingga unsur SAR turut dilibatkan dalam operasi pemadaman.
Namun, salah satu kendala utama yang masih dihadapi adalah keterbatasan sumber air. Karena itu, pemerintah daerah terus berupaya menambah dukungan peralatan dan armada untuk menyuplai air ke lokasi kebakaran.
"Kesulitan kita adalah sumbernya terhadap air, jadi kita perlu kebutuhan lagi untuk suplai air itu tangki," jelasnya.
Halikinnor mengapresiasi dukungan sejumlah pihak baik perusahaan maupun TNI yang ikut membantu penanganan karhutla, mulai dari bantuan selang hingga tangki air.
Selain itu, dirinya juga menerima informasi adanya bantuan tangki dari tokoh masyarakat Kalimantan Tengah di Pangkalan Bun yang akan dipinjamkan untuk membantu penanganan karhutla di Sampit.
"Mudah-mudahan itu terealisasi segera," harapnya.
Halikinnor meminta masyarakat ikut berperan mencegah kebakaran meluas. Warga diminta segera melaporkan dan membantu memadamkan api yang ditemukan di sekitar lingkungan masing-masing.
Ia juga meminta aparat dan unsur pemerintahan hingga tingkat RT dan RW meningkatkan pengawasan terhadap lahan yang berpotensi terbakar.
Menurutnya, kebakaran dapat bermula dari hal kecil, termasuk kelalaian membuang puntung rokok di lahan yang kondisinya kering.
"Jangan hanya keuntungan sedikit itu tapi merugikan kita orang banyak. Itu baik kesehatan, pendidikan, semua terlibat, termasuk ekonomi kita," tegasnya.
Halikinnor mengajak seluruh unsur masyarakat memperkuat kolaborasi untuk mempercepat penanganan karhutla sekaligus mencegah munculnya titik api baru. (DEWI PATMALASARI/y)









