PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kepala Badan Pusat Statistik atau BPS Provinsi Kalimantan Tengah, Agnes Widiastuti, mengumumkan perkembangan harga berbagai komoditas pada Maret 2025 yang secara umum menunjukkan adanya peningkatan dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.

"Berdasarkan hasil pemantauan di empat kabupaten/kota, inflasi tahunan pada Maret 2025 mencapai 1,33 persen, yang ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen atau IHK dari 105,96 pada Maret 2024 menjadi 107,37 pada bulan yang sama tahun ini. Sementara itu, inflasi bulanan tercatat sebesar 1,71 persen, dan inflasi tahun berjalan sebesar 0,68 persen," kata Agnes menyampaikan berita resmi statistik pada Selasa, 8 April 2025.

Agnes menjelaskan, inflasi y-on-y terjadi akibat kenaikan harga di beberapa kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami kenaikan terbesar dengan angka 2,90 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 7,28 persen. Sebaliknya, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga justru mengalami deflasi sebesar 4,32 persen.

Secara rinci, kelompok pengeluaran yang memberikan andil inflasi y-on-y paling besar adalah makanan, minuman, dan tembakau dengan kontribusi 1,14 persen, diikuti oleh kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,20 persen. Di sisi lain, deflasi y-on-y disumbangkan oleh kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,60 persen.

"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi y-on-y mencakup emas perhiasan, ikan gabus, Sigaret Kretek Mesin, dan cabai rawit. Sebaliknya, beberapa komoditas yang memberi andil terhadap deflasi adalah tarif listrik, daging ayam ras, dan angkutan udara," terang Agnes.

Agnes juga menyebutkan bahwa komoditas dominan penyumbang inflasi m-to-m pada Maret 2025 adalah tarif listrik, cabai rawit, dan bawang merah. Sementara itu, beberapa komoditas seperti daging ayam ras, bayam, dan ikan nila memberikan andil deflasi m-to-m.

"Data ini mencerminkan perubahan yang dipengaruhi oleh dinamika pasokan dan permintaan di pasar, serta kondisi ekonomi makro lainnya," ujar Agnes.

Ia menekankan pentingnya memonitor perkembangan ini untuk merancang kebijakan ekonomi yang efektif.

Berdasarkan data tersebut, inflasi di Kalimantan Tengah tetap terkendali meskipun ada lonjakan harga pada beberapa kelompok pengeluaran. Hal ini menunjukkan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam menjaga kestabilan ekonomi.

BPS Kalimantan Tengah akan terus memantau perkembangan harga untuk memberikan gambaran yang lebih akurat tentang situasi ekonomi daerah, serta mendukung pengambilan keputusan yang berbasis data.

Dengan adanya laporan ini, Agnes berharap masyarakat lebih memahami dampak inflasi terhadap kehidupan sehari-hari dan dapat beradaptasi dengan baik.

"Kami juga mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola pengeluaran di tengah tantangan ekonomi saat ini," tuturnya. (TESTI PRISCILLA/H)