PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi seperti Pertamina Dex, Dexlite, dan Pertamax Turbo pada 18 April 2026 mulai memicu kekhawatiran terhadap potensi inflasi daerah. 

Lonjakan harga minyak dunia yang menjadi pemicu kebijakan tersebut dinilai dapat berdampak luas, mulai dari kenaikan harga bahan pokok hingga material bangunan, termasuk di Kota Palangka Raya.

Namun demikian, Pemerintah Kota Palangka Raya bergerak cepat mengantisipasi dampak tersebut. Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, mengungkapkan bahwa salah satu langkah strategis yang dilakukan adalah menjalin kerja sama antardaerah guna menjaga stabilitas harga komoditas penting.

“Upaya pengendalian inflasi terus kami lakukan, salah satunya melalui kerja sama pasokan bahan pangan dengan daerah lain,” ujar Zaini, Senin 27 April 2026.

Salah satu bentuk kerja sama tersebut dilakukan dengan Kabupaten Karo, yang kini rutin mengirimkan pasokan cabai ke Palangka Raya. Distribusi komoditas ini turut difasilitasi oleh Bank Indonesia, sehingga mampu membantu menekan lonjakan harga di pasar lokal.

Data terbaru pekan ini menunjukkan adanya penurunan signifikan pada sejumlah jenis cabai. Harga cabai merah keriting turun dari Rp60.000 menjadi Rp40.000 per kilogram, cabai merah besar dari Rp60.000 menjadi Rp45.000, cabai rawit hijau dari Rp70.000 menjadi Rp60.000, serta cabai rawit merah dari Rp80.000 menjadi Rp70.000 per kilogram.

Sementara itu, harga bawang merah tercatat mengalami kenaikan tipis dari Rp47.000 menjadi Rp48.000 per kilogram, namun masih dalam batas terjangkau. 

"Dengan langkah kolaboratif ini dapat terus menjaga stabilitas harga dan menekan laju inflasi di tengah tekanan kenaikan BBM," pungkasnya. (MARINI/Y)