PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pemko Palangka Raya terus menunjukkan komitmen kuat dalam menangani isu ketenagakerjaan di wilayahnya.

Berdasarkan data terbaru hingga April 2026, tren pengangguran di Kota Cantik menunjukkan tanda-tanda penurunan yang positif.

Hal ini tidak lepas dari berbagai program kerja terintegrasi yang diluncurkan pemerintah untuk memperluas akses lapangan kerja bagi masyarakat lokal.

Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, mengungkapkan bahwa meskipun tren menunjukkan perbaikan, tantangan besar masih membayangi.

Berdasarkan catatan tahun 2024, angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Palangka Raya sempat menyentuh angka 5,02 persen.

Angka ini tercatat sebagai salah satu yang tertinggi di wilayah Kalimantan Tengah pada periode tersebut, sehingga memerlukan perhatian khusus dari seluruh jajaran perangkat daerah.

Menurut Zaini, tingginya angka pengangguran tersebut dipicu oleh dinamika perkotaan yang kompleks.

"Kita harus melihat pengangguran di Palangka Raya tidak hanya disebabkan oleh ketersediaan lowongan kerja semata, tetapi juga dipicu oleh tingginya tingkat urbanisasi dan persaingan kerja yang semakin ketat," katanya, Minggu, 3 Mei 2026.

Zaini menjelaskan bahwa daya tarik Palangka Raya sebagai pusat kegiatan ekonomi membuat arus urbanisasi sulit dibendung.

Banyak pendatang yang datang dengan harapan mendapatkan pekerjaan, namun tidak semuanya memiliki keahlian yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja saat ini. Kondisi inilah yang kemudian menciptakan ketimpangan antara jumlah pencari kerja dan daya serap industri.

Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Kota Pemko berkomitmen untuk melakukan intervensi melalui berbagai program pengembangan kompetensi.

"Kami fokus pada penguatan sektor UMKM dan pelatihan vokasi agar tenaga kerja kita memiliki daya saing tinggi. Kami ingin memastikan bahwa warga lokal bukan sekadar menjadi penonton, melainkan pemain utama di tengah persaingan kerja yang kompetitif ini," imbuhnya.

Ia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berkolaborasi dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif.

Dengan sinergi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, ia optimis angka pengangguran akan terus merosot.

Langkah ini diharapkan mampu membawa Palangka Raya menjadi kota yang tidak hanya "Keren" secara infrastruktur, tetapi juga sejahtera secara ekonomi bagi seluruh warganya. (HENDRI/Y)