BORNEONEWS, Nagoya, Jepang - Suara teriakan Subhan begitu keras hingga menutupi sorakan penonton setelah papan skor menunjukkan angka 21-15.
Ia seketika melentangkan tubuhnya di atas lapangan, memandang langit-langit stadion sambil menangis.
Begitu pula pasangannya, Rina Marlina, yang tak kuasa menahan air mata. Ia langsung merebahkan tubuhnya ke lantai setelah pertandingan gim ketiga berakhir.
Kedua atlet para bulu tangkis itu baru saja memetik kemenangan pada laga final Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026 di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Nagoya, Jepang.
Mereka menumbangkan pasangan China, Shuangbao Lin dan Qingtao Zeng, dengan skor 21-16, 11-21, dan 21-15.
Medali emas dari nomor ganda campuran SH6 pun berhasil diraih kontingen Indonesia.
Perjuangan Subhan/Rina akhirnya usai. Peluh telah terbayar, ketegangan telah luruh, dan air mata yang mengalir menjadi saksi betapa dalam kebahagiaan yang mereka rasakan setelah melewati perjalanan yang tidak mudah.
Tangisan mereka bukan sekadar luapan kebahagiaan, melainkan ungkapan dari segala perasaan yang tersimpan hingga akhirnya berlabuh pada kemenangan.
Kemenangan itu begitu berarti bagi Subhan/Rina. Bukan hanya tentang emas sebagai pencapaian tertinggi, tetapi juga tentang pemulihan luka batin akibat trauma masa lalu.
Menyembuhkan trauma
Subhan/Rina memasuki pertandingan pamungkas dengan kondisi batin yang tidak baik-baik saja.
Kedua atlet berusia 32 tahun itu masih dibayangi kekalahan dari atlet-atlet China dalam sejumlah pertemuan di kejuaraan sebelumnya.
Kekalahan dari pasangan Naili Lin/Fengmei Li pada semifinal Paralimpiade Paris 2024 masih membekas kuat dalam ingatan Subhan/Rina.
Saat mulai berusaha melupakan kekalahan itu, mereka kembali menelan pil pahit setelah kalah dari Lin/Zeng pada Kejuaraan Dunia Para Bulu Tangkis 2026 di Bahrain.
Namun, cerita kekalahan itu terkubur di Nagoya.
Subhan/Rina berhasil menumbangkan Lin/Zeng, yang melaju ke final setelah mengalahkan rekan senegaranya, Naili/Fengmei.
Pembalasan kali ini terasa begitu berarti. Subhan/Rina mengalahkan Lin/Zeng dua kali, yakni pada babak penyisihan dan final.
"Semua terbayarkan," ujar Subhan dalam perbincangan dengan ANTARA yang turut mengawal perjuangan mereka di Nagoya.
Kemenangan itu menjadi bagian dari pencapaian terbaik dalam perjalanan duet Subhan/Rina.
Mereka merasa lega bukan main. Luka batin yang terus membayangi perjalanan mereka akhirnya terkubur melalui kemenangan di pesta olahraga multicabang terbesar di Asia bagi atlet penyandang disabilitas tersebut.
Menjaga tradisi medali
Persembahan emas untuk kontingen Indonesia di Nagoya juga menambah catatan prestisius dalam perjalanan pasangan Subhan/Rina.
Mereka kembali mengukir kisah sukses di nomor ganda campuran SH6, seperti yang mereka torehkan pada Asian Para Games 2022 di Hangzhou, China.
Bagi Rina, medali emas di Nagoya merupakan pencapaian penting yang menandai konsistensi mereka dalam mempertahankan prestasi dan kekompakan sebagai tim.
"Kami semakin solid," katanya.
Menjaga tradisi emas di panggung Asia menjadi bekal berharga bagi Subhan/Rina untuk menatap tantangan yang lebih besar.
Perjalanan mereka belum usai. Masih ada panggung dunia yang menanti. Ada persaingan yang lebih ketat. Ada mimpi yang belum tuntas. Paralimpiade 2028 di Los Angeles, Amerika Serikat menjadi salah satu tujuan yang kini membentang di hadapan mereka.
Akan ada latihan panjang. Ada peluh yang kembali menetes dan rasa lelah yang harus ditaklukkan. Ada pula kemungkinan berhadapan kembali dengan lawan-lawan yang pernah meninggalkan luka.
Namun, Rina tidak ingin gentar. Jika kembali bertemu pasangan China di panggung terbesar dunia itu, ia memastikan dirinya siap menghadapi tantangan. Bahkan, ia menyimpan ambisi untuk membalas kekalahan menyakitkan di Paris.
Kini, untuk sementara, Subhan/Rina bisa menghela napas lega. Ketegangan yang menemani pertandingan telah berlalu. Beban yang mereka pikul sudah terangkat. Mereka bisa beristirahat dengan tenang. Tidur lebih nyenyak setelah melewati pertarungan yang menguras tenaga dan emosi.
Di Nagoya, mereka tidak sekadar membawa pulang medali emas. Mereka juga membawa pulang keyakinan. Bahwa luka bisa dipulihkan. Kegagalan bisa menjadi pelajaran.
Emas Subhan/Rina sekaligus melengkapi kejayaan tim para bulu tangkis Indonesia di Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026. Tiga medali emas berhasil dikumpulkan.
Dua emas lainnya dipersembahkan Leani Ratri Oktila/Hikmat Ramdani dari nomor ganda campuran SL3-SU5 serta Muh Al Imran/Suryo Nugroho dari nomor ganda putra SL3-SU5.
Ketiga emas itu menjadi bagian penting dari perjuangan kontingen Indonesia yang dipimpin Chef de Mission Reda Manthovani. Dengan koleksi 14 medali emas, Indonesia masuk dalam jajaran 10 besar klasemen Asian Para Games Aichi-Nagoya 2026.
Bagi Subhan/Rina, Nagoya kini menyimpan cerita tersendiri. Tentang air mata yang jatuh setelah pertandingan. Tentang luka yang perlahan terobati. Tentang emas yang menjadi jawaban atas penantian panjang.
Namun, mereka tahu perjalanan belum berakhir. Masih ada kejuaraan-kejuaraan lain yang menunggu. Masih ada lawan yang harus dihadapi. Masih ada mimpi yang ingin diwujudkan.
"Kami siap untuk berjuang lagi," ujar Rina.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan tekad yang besar. Sebab bagi Subhan/Rina, emas di Nagoya bukanlah garis akhir, tapi awal dari perjalanan berikutnya.
ANTARA









