Industri Sawit Malaysia Dibayangi Faktor Bearish
Industri sawit Malaysia, dan mungkin juga Indonesia, kini tengah diuji ketahanannya oleh sejumlah faktor bearish (pelemahan), yang memicu pelemahan harga minyak sawit mentah (CPO) belakangan ini.
Kontributor
Industri sawit Malaysia, dan mungkin juga Indonesia, kini tengah diuji ketahanannya oleh sejumlah faktor bearish (pelemahan), yang memicu pelemahan harga minyak sawit mentah (CPO) belakangan ini.
Emiten sektor perkebunan diproyeksi melanjutkan pertumbuhan kinerja keuangan hingga akhir tahun ini.
Hingga akhir tahun ini produksi pangan, termasuk CPO dan produk sawit turunannya, terbilang meningkat berkat kondisi iklim dan cuaca yang relatif stabil dan kondusif.
Emiten perkebunan sawit, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) menyatakan pihaknya akan melakukan perluasan bisnis kayu selain bisnis sawit guna mendongkrak pendapatan.
Kinerja emiten sektor perkebunan diperkirakan tidak akan terpengaruh oleh meningkatnya perang dagang antara Amerika Serikat dengan China. Namun demikian, kondisi ini juga membuka peluang meningkatkan ekspor ke China.
Arahan Presiden Joko Widodo agar dilakukan peningkatan kandungan minyak sawit dari 20 persen menjadi 30 persen untuk pembuatan biodiesel, dapat menjadi sentimen positif bagi minyak sawit mentah (CPO) nasional.
Di tengah melemahnya harga minyak sawit mentah (CPO) seiring dengan melimpahnya pasokan di pasar, penerapan mandatori biodiesel B30 dapat menjadi solusi untuk mendongkrak harga.
Minimnya sentimen positif yang mendukung penguatan harga minyak sawit mentah (CPO), membuat komoditas ini terus melemah, dan bahkan sudah menyentuh level terendah dalam dua tahun terakhir.
Emiten industri kelapa sawit, PT Mahkota Group Tbk (MGRO), mengklaim penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) perseroan kelebihan permintaan (oversubscribed) dua kali atas saham yang ditawarkan.
Apa yang disebutkan sejumlah analis bahwa ada peluang di pasar China bagi komoditas sawit Indonesia menyusul sengitnya perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, kini mulai terbukti.
Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka diprediksi akan kembali tertekan seiring menguatnya ringgit Malaysia terhadap dolar AS, ditambah dengan data ekspor yang turun.
Vice President Research Department Indosurya Sekuritas, William Surya Wijaya, menyatakan emiten-emiten perkebunan dapat melakukan diversifikasi bisnis di luar Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya.
Sentimen negatif masih menghampiri emiten-emiten yang bergerak di sektor perkebunan, sehingga harus diterapkan strategi bisnis secara efektif agar kinerja keuangannya tetap stabil hingga akhir tahun.
Meski ada secercah harapan bagi minyak sawit untuk tidak mendapatkan diskriminasi di Uni Eropa (UE), tapi zona pengguna mata uang euro itu tetap menyoroti aspek keberlanjutan dari komoditas ini.
Setelah sempat menguat pada awal pekan ini, harga minyak mentah diprediksi kembali melemah pada Selasa ini (10/7/2018).
PT Austindo Nusantara Jaya Tbk tetap melanjutkan pembangunan kebun dan pabrik kelapa sawit pada tahun ini di Papua.
Perdagangan awal pekan ini, pergerakan harga CPO sedang berada pada level RM2.276, dengan perdagangan dibuka pada level RM2.281.
Sejumlah produk makanan dan kosmetik berbasis minyak sawit sudah dinyatakan aman dan akan digunakan selama penyelenggaraan Olimpiade Tokyo pada 2020.
Perusahaan perkebunan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) dinilai memiliki prospek pertumbuhan cerah berkat penguasaan lahan yang luas.
Pelaku pasar pada perdagangan akhir pekan ini menantikan sentimen positif yang mendukung penguatan harga minyak sawit, di tengah mulai diterapkannya tarif terhadap produk impor asal Amerika Serikat di China.