PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyebabkan kabut asap di wilayah Kalimantan Tengah turut memengaruhi aktivitas penerbangan dari Bandara Iskandar Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat. 

Kondisi tersebut mendorong sebagian masyarakat memanfaatkan transportasi laut sebagai alternatif perjalanan, termasuk 45 calon jamaah umrah asal Pangkalan Bun.

Sebanyak 45 calon jamaah umrah dari PT Alkamila Pangkalan Bun yang semula dijadwalkan berangkat menuju Jakarta menggunakan pesawat pada 17 Oktober 2026 akhirnya memilih jalur laut. 

Para calon jamaah tersebut berangkat sehari lebih awal, yakni pada 16 Oktober 2026, menggunakan kapal penumpang KM Awu menuju Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya.

“Mereka awalnya direncanakan bertolak ke Jakarta menggunakan pesawat pada 17 Oktober 2026. Namun, para calon jamaah tersebut kemudian memutuskan untuk menggunakan transportasi laut sehari lebih awal, yakni pada 16 Oktober 2026, dengan tujuan Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya,” jelas Pimpinan Cabang PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) Kumai/P. Bun, Andry Yudha Prawira, pada Sabtu, 24 Oktober 2026.

Pada keberangkatan yang sama, KM Awu mengangkut sekitar 1.300 penumpang dari Pelabuhan Panglima Utar Kumai menuju Surabaya dan sejumlah kota lain di wilayah Indonesia timur. 

Kondisi ini menunjukkan pentingnya peran transportasi laut dalam mendukung mobilitas masyarakat, khususnya ketika terjadi gangguan pada moda transportasi udara.

Andry menyampaikan bahwa perusahaan berkomitmen untuk terus memberikan layanan transportasi laut kepada masyarakat Indonesia, termasuk di tengah kondisi yang berdampak pada operasional transportasi udara. 

PELNI senantiasa berupaya memastikan pelayanan kepada penumpang tetap berjalan secara optimal, dengan mengedepankan aspek keselamatan sebagai prioritas utama.

“PT PELNI (Persero) berkomitmen untuk terus melayani masyarakat Indonesia melalui transportasi laut yang aman dan andal. Di tengah kondisi kabut asap yang berdampak pada penerbangan dari Pangkalan Bun, kami berupaya memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap diberikan secara optimal, dengan tetap mengedepankan keselamatan penumpang dalam setiap pelayaran,” ujar Andry kepada awak media.

Lebih lanjut, Andry mengatakan jumlah penumpang kapal PELNI dari wilayah Kumai diperkirakan masih berpotensi mengalami peningkatan pada keberangkatan berikutnya. 

Berdasarkan data sementara, sebanyak 623 penumpang berangkat menggunakan KM Kelimutu tujuan Kumai – Semarang, 427 penumpang tercatat akan berangkat menggunakan kapal PELNI pada 24 Oktober 2026.

Jumlah tersebut masih berpotensi bertambah, seiring dengan penjualan tiket dan perkembangan kebutuhan perjalanan masyarakat, khususnya apabila gangguan penerbangan akibat dampak asap karhutla masih berlanjut. (DANANG/H)