BORNEONEWS, Jakarta – Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah sasaran operasi penyemaian dry ice atau es kering untuk membantu mengurai kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menegaskan penggunaan dry ice bukan untuk memadamkan titik api secara langsung, melainkan untuk memperbaiki jarak pandang dan membantu mengurangi kepadatan asap.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan pemadaman utama tetap dilakukan oleh tim satuan tugas darat yang menangani sumber kebakaran secara langsung.
Sementara itu, dry ice disemai pada ketinggian sekitar 5.000 hingga 7.000 kaki di bawah lapisan asap.
Teknologi tersebut dirancang untuk membantu mendinginkan dan memecah partikel asap pekat sehingga sinar matahari dapat lebih mudah menembus ke permukaan.
Selain itu, penyemaian juga diharapkan membantu mendorong asap dari lapisan bawah naik ke atmosfer dan memperbaiki jarak pandang.
Langkah tersebut menjadi penting terutama untuk mendukung aktivitas penerbangan yang terganggu akibat kabut asap.
BNPB juga berharap pengurangan kepadatan asap dapat membantu menekan paparan polusi udara terhadap masyarakat.
Operasi dry ice menjadi bagian dari strategi udara yang dapat dikombinasikan dengan penyemaian NaCl atau garam apabila terdapat pertumbuhan awan potensial.
Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan saat ini menjadi dua provinsi sasaran utama penyemaian tersebut.
Direktorat Pengendalian Operasi BNPB mencatat di Kalimantan Tengah telah dilakukan sembilan sorti penyemaian dengan total 4.400 kilogram dry ice dan 3.800 kilogram garam.
Sementara itu, di Sumatera Selatan dilakukan enam sorti dengan 4.000 kilogram dry ice dan 800 kilogram garam.
Hasil sementara di Sumatera Selatan menunjukkan jarak pandang meningkat dari sekitar 300 meter pada pagi hari menjadi 2.800 meter pada sore hari setelah operasi dilakukan.
“Jadi dry ice yang kita buat saat ini adalah untuk mengurangi visibility yang rendah tersebut,” kata Berton dikutip dari ANTARA, Jumat, 23 Oktober 2026.
BNPB menegaskan operasi udara menggunakan dry ice tidak menggantikan pemadaman langsung di lapangan, melainkan menjadi pendukung untuk mengurangi dampak kabut asap dan memperbaiki kondisi jarak pandang. (*/j)









