BORNEONEWS, Palangka Raya – Akumulasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dari 1 Januari hingga 23 Oktober 2026 mencapai 6.952 kejadian dengan luas terbakar 20.108,18 hektare. Total hotspot dalam periode itu tercatat 362.359 titik. Luas tersebut dihitung berdasarkan laporan lapangan kabupaten/kota ke Pusdalops PB Provinsi Kalteng.
Dalam sehari, angka akumulasi bertambah 51 kejadian dan 140,31 hektare dari posisi 6.901 kejadian dan 19.967,87 hektare pada laporan 22 Oktober. Jumlah hotspot bertambah 15.895 titik dari 346.464 titik.
Data bulanan menunjukkan aktivitas api masih rendah pada awal tahun. Hotspot Januari–Juni berkisar antara 121 dan 897 titik per bulan, dengan 27 hingga 127 kejadian per bulan dan luas terbakar 16,60 hingga 219,56 hektare per bulan.
Peningkatan mulai terlihat pada Juli dengan 3.236 hotspot, 574 kejadian, dan 1.332,33 hektare. Lonjakan tajam terjadi pada Agustus: 71.350 hotspot, 1.928 kejadian, dan 6.865,39 hektare. September menjadi puncak dengan 151.027 hotspot, 2.423 kejadian, dan 7.535,28 hektare.
Memasuki Oktober, hingga tanggal 23 tercatat 134.649 hotspot, 1.656 kejadian, dan 3.829,30 hektare terbakar. Jumlah hotspot Oktober sudah mendekati total September, padahal bulan belum berakhir.
Berdasarkan wilayah, Kotawaringin Timur mencatat luas terbakar terbesar, yakni 3.424,27 hektare. Berikutnya Pulang Pisau (3.094,98 hektare), Kotawaringin Barat (2.630,97), Kapuas (2.141,01), dan Seruyan (2.091,23).
Untuk hotspot, Pulang Pisau menempati urutan pertama dengan 68.041 titik, disusul Kapuas (54.134) dan Kotawaringin Timur (52.836). Dari sisi jumlah kejadian, Kotawaringin Timur juga teratas dengan 1.308 kejadian, diikuti Kota Palangka Raya (957), Barito Timur (732), dan Seruyan (704).
Karhutla mendominasi bencana di Kalteng. Dari total 7.200 kejadian bencana sepanjang 1 Januari–23 Oktober 2026, sebanyak 6.952 kejadian atau sekitar 96,6 persen merupakan karhutla. Sisanya terdiri atas 137 kebakaran permukiman, 50 cuaca ekstrem, 47 banjir, 8 kekeringan, 3 abrasi, dan 3 tanah longsor.
Menurut jumlah seluruh kejadian bencana, Kotawaringin Timur menempati urutan teratas dengan 1.334 kejadian. Disusul Kota Palangka Raya (1.023), Barito Timur (733), dan Seruyan (703). Jumlah terendah tercatat di Sukamara (182) dan Murung Raya (198).
Status tanggap darurat karhutla berlaku di tingkat provinsi (30 September–29 Oktober 2026), Kota Palangka Raya (9–29 Oktober), Seruyan (16 September–31 Oktober), Pulang Pisau (15 September–13 November), Kotawaringin Barat (16–29 Oktober), dan Sukamara (15–28 Oktober). Laporan mencatat status siaga darurat karhutla nihil. (HERMAWAN DP/H)
Karhutla Kalteng Capai 6.952 Kejadian dan Lebih dari 20 Ribu Hektare Terbakar
Bagikan:

PALANGKA RAYA –
Komentar0
Jadilah yang pertama membagikan
Bagikan:

Berita Terkait
Kalteng Peringkat Pertama Hotspot Karhutla
Pemadaman Karhutla Kalteng Butuh Gerakan Bersama
DPRD Palangka Raya Tantang Menteri Raja Juli Menginap 10 Hari di Wilayah Terdampak Karhutla Kalteng
Anang Dirjo Tekankan Kesiapan Penanganan Karhutla Kalteng Harus Diperkuat
Tim Dalkarhutla Kalteng Berupaya Padamkan 16 Titik Api Karhutla
Akses Sumber Air Kendala Penanganan Karhutla Kalteng
Komentar (0)
Memuat komentar…







