SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Nam Air Sampit menyalurkan bantuan kepada Satgas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) di tengah terhentinya penerbangan selama hampir sebulan akibat kabut asap yang menyebabkan jarak pandang tidak memenuhi standar keselamatan penerbangan.

"Kegiatan Nam Air Peduli Karhutla ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap bencana kebakaran hutan dan lahan di wilayah Sampit dan sekitarnya," kata District Manager NAM Air Sampit, Harli Rahman, Rabu, 21 Oktober 2026.

Kegiatan Nam Air Peduli Karhutla tersebut berlangsung di Posko Satgas Penanganan Karhutla, Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim. Dalam kegiatan tersebut, Nam Air berkolaborasi dengan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas II Sampit dan sejumlah mitra agen perjalanan.

Mitra yang terlibat antara lain Lukman Hakim Tour & Travel, AGNS, CV Sinar Jagad Indonesia, PT Bumi Nusantara Jaya Ekspres, CV Cahaya, Dimas Tours, serta SMK Negeri 1 Sampit.

Bantuan yang disalurkan meliputi masker KN95, air mineral, makanan instan, minuman energi, dan multivitamin.

Selain bantuan logistik, tim BKK Kelas II Sampit memberikan pemeriksaan kesehatan bagi petugas, mulai dari pengukuran tekanan darah, saturasi oksigen, hingga gula darah.

Harli mengatakan, kolaborasi tersebut dilakukan untuk membantu petugas yang terus bekerja dalam kondisi penuh tantangan akibat kebakaran dan asap.

"Kami percaya bahwa kepedulian dan semangat gotong royong merupakan kekuatan penting dalam menghadapi situasi seperti ini," ujarnya.

Harli mengungkapkan bahwa dampak karhutla juga dirasakan langsung oleh sektor penerbangan. Nam Air terakhir melayani penerbangan dari dan menuju Sampit pada 22 September 2026.

Hingga Rabu, 21 Oktober 2026, jarak pandang di wilayah Sampit disebut belum memenuhi batas minimum yang dipersyaratkan untuk keselamatan penerbangan. Karena itu, operasional penerbangan belum dapat kembali berjalan normal.

"Dampak dari karhutla ini tidak hanya dirasakan dari sisi kesehatan dan aktivitas masyarakat, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap operasional penerbangan. Hingga saat ini, kondisi jarak pandang di wilayah Sampit belum memenuhi batas minimum yang dipersyaratkan untuk keselamatan penerbangan. Oleh karena itu, aspek keselamatan tetap menjadi prioritas utama dalam setiap keputusan," imbuhnya.

Nam Air berharap kondisi cuaca dan kualitas udara di Sampit segera membaik sehingga jarak pandang kembali memenuhi persyaratan keselamatan dan penerbangan dapat beroperasi seperti semula.

"Kami berharap melalui kegiatan ini bantuan dan perhatian yang diberikan dapat sedikit membantu rekan-rekan di lapangan. Dan kami juga berharap kondisi cuaca dan kualitas udara di Sampit segera membaik, jarak pandang kembali memenuhi persyaratan keselamatan penerbangan dan aktivitas penerbangan dapat beroperasi normal kembali," tandasnya.

Sementara itu, travel agent ikut berpartisipasi dalam kegiatan sosial tersebut sebagai bentuk dukungan kepada petugas yang menangani karhutla di Kotim.

"Kami ikut melaksanakan bakti sosial ini, tergerak ingin membantu Satgas Penanganan Karhutla Kotim. Walaupun tidak seberapa, ini dukungan kami terhadap mereka garda terdepan dalam penanganan karhutla," kata Seniwantoko pemilik travel agent CV Sinar Jagad Indonesia.

Ia mengungkapkan, terhentinya penerbangan membuat penjualan tiket untuk rute di Kalimantan Tengah ikut terhenti. Bagi calon penumpang yang harus melakukan perjalanan, pihaknya sementara mengarahkan mereka melalui Bandara Internasional Syamsudin Noor Banjarmasin sebagai alternatif.

"Khususnya Kalteng sudah tutup total nggak ada penerbangan. Sebelum penerbangan lumpuh, itu sudah sangat kacau karena sering batal akibat kabut asap. Kalau secara ekonomi itu tentunya merugikan kami. Semoga kondisinya segera normal," ucap Seniwantoko.

Pembatalan dan terhentinya penerbangan berdampak terhadap aktivitas usaha agen perjalanan. Karena itu, ia berharap situasi karhutla dan kabut asap segera teratasi agar layanan penerbangan dan penjualan tiket dapat kembali berjalan.

Koordinator Lapangan Satgas Penanganan Karhutla Kotim Agus Mulyadi mengapresiasi bantuan tersebut. Ia mengatakan petugas membutuhkan asupan energi dan dukungan kesehatan karena harus bekerja berjam-jam di tengah paparan asap.

"Bantuan ini sangat bermanfaat bagi petugas-petugas di posko. Karena kami membutuhkan energi dan stamina yang tinggi, yang selama ini di lapangan banyak menghirup asap dan berjam-jam dari pagi bahkan sampai malam. Sehingga itu banyak menguras tenaga, energi, dan kami membutuhkan bantuan. Bantuan ini insyaallah bermanfaat sekali bagi kami," ujar Agus.

Ia menegaskan penanganan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak, bukan hanya pemerintah dan petugas di lapangan. Dukungan masyarakat serta dunia usaha juga diperlukan untuk memperkuat upaya penanggulangan kebakaran di Kotim.

"Dalam penanganan karhutla ini kita harus bergotong royong baik pemerintah, masyarakat, maupun dunia usaha," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)