SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor meminta perusahaan yang beroperasi di Kecamatan Cempaga membantu warga terdampak kebakaran yang menghanguskan lima rumah dan Masjid Al-Muhajirin di Desa Cempaka Mulia Barat.

"Kita atas nama pemerintah daerah tentu prihatin dan turut berduka atas musibah yang menimpa saudara-saudara kita, terutama lima buah rumah yang terbakar ini. Saya berharap agar mereka bisa sabar menerima ujian dari Tuhan ini dan mudah-mudahan semua ada hikmahnya," kata Halikinnor, Senin, 26 Oktober 2026.

Hal itu disampaikan Halikinnor saat meninjau lokasi kebakaran bersama Kapolres Kotim AKBP I Kadek Dwi Yoga Sidhimantra W, Penjabat Sekretaris Daerah Kotim Diana Setiawan, dan sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD).

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kotim telah menyalurkan bantuan sembako untuk memenuhi kebutuhan dasar korban kebakaran. Untuk sementara, warga yang kehilangan tempat tinggal diketahui menumpang di rumah keluarga masing-masing.

Halikinnor mengatakan, dirinya juga telah menghubungi perusahaan yang berdomisili dan beroperasi di wilayah Kecamatan Cempaga agar turut membantu meringankan beban korban.

Ia meminta bantuan tersebut dapat direalisasikan secepatnya, terutama untuk mendukung pembangunan tempat tinggal sementara bagi warga yang rumahnya hangus terbakar.

"Kita belum tahu berupa apa bantuannya, tapi secepatnya saya minta. Kalaumisal nanti berupa uang tunai, mungkin donasi dengan PU dan lewat Pak Sekda, supaya kita bantu secepatnya kalau bisa mereka bisa membangun minimal pemondokan untuk tempat tinggal sementara," ujarnya.

Halikinnor menjelaskan, pemerintah daerah akan mengupayakan bantuan lanjutan bagi korban kebakaran melalui program tahun anggaran berikutnya. Karena penyaluran bantuan pemerintah tidak bisa dilakukan serta-merta karena harus mengikuti mekanisme penganggaran.

"Tahun depan juga akan kita programkan bantuan ini lagi, karena kalau pemerintah daerah ini berdasarkan tahun anggaran, apalagi ini sudah akhir tahun, sehingga kita tidak bisa langsung serta-merta saat ini membantu," jelasnya.

Karena itu, dukungan perusahaan diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan mendesak korban, khususnya tempat tinggal sementara, sembari menunggu upaya bantuan lanjutan dari pemerintah.

Kebakaran yang menghanguskan lima rumah dan Masjid Al-Muhajirin itu terjadi pada Minggu, 25 Oktober 2026, sekitar pukul 18.30 WIB.

Berdasarkan keterangan warga, api bermula dari salah satu rumah di deretan bangunan tersebut. Kebakaran diduga dipicu korsleting listrik, kemudian dengan cepat merembet ke rumah-rumah kayu di sekitarnya.

Api juga berkobar dari bangunan sarang burung walet yang sudah tidak digunakan yang ada di rumah titik awal kebakaran. Kobaran api dari bangunan sarang walet tersebut kemudian menjalar hingga menghanguskan masjid yang juga merupakan bangunan kayu.

Meski dugaan awal mengarah pada korsleting listrik, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.

Halikinnor menegaskan, kebakaran tersebut tidak berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mengingat lokasi kejadian berada di kawasan permukiman.

"Ini bukan karena karhutla. Di sini perumahan semua, tidak ada misalnya ini akibat dari kebakaran hutan atau lahan sehingga merambah ke perumahan warga. Ini kelihatannya tidak ada kaitan dengan karhutla, ini kemungkinan korsleting listrik atau bagaimana, masih dalam penyelidikan pihak kepolisian," tegasnya.

Menyikapi kejadian tersebut, Halikinnor mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati dalam menyalakan api maupun menggunakan peralatan listrik di rumah.

Ia menyoroti instalasi listrik yang sudah tua, kabel yang tidak lagi memenuhi standar, serta penggunaan stopkontak bertumpuk yang berpotensi membebani jaringan listrik.

Menurutnya, penggunaan satu stopkontak untuk menyambungkan banyak perangkat listrik dapat meningkatkan risiko panas berlebih dan memicu korsleting apabila instalasi tidak sesuai dengan kapasitasnya.

"Saya mengimbau masyarakat, tolong berhati-hati dalam penggunaan api, pertama di dapur dan juga rumah-rumah yang kondisi jaringan listriknya itu sudah ada juga yang sudah lama, yang sudah tua, yang kabelnya sudah tidak memenuhi standar PLN," katanya.

Ia juga meminta warga tidak sembarangan memperbanyak sambungan stopkontak tanpa memperhatikan kemampuan kabel dan daya listrik. (DEWI PATMALASARI/H)