Analis: CPO akan Uji Level Support di RM2.094
Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka belum juga bergairah menjelang memasuki perdagangan akhir pekan, yang dipengaruhi oleh ekspektasi melambannya permintaan dari India dan melambungnya stok.
Kontributor
Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka belum juga bergairah menjelang memasuki perdagangan akhir pekan, yang dipengaruhi oleh ekspektasi melambannya permintaan dari India dan melambungnya stok.
Tren pergerakan negatif harga minyak sawit mentah (CPO) belum juga berakhir hingga perdagangan medio pekan ini, sehingga menambah rentetan pelemahan dalam lima sesi perdagangan berturut-turut.
PT Mahkota Group Tbk (MGRO) telah memproduksi crude palm oil (CPO) sebanyak 41.767 ton pada periode Januari hingga Febuari tahun ini.
PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II kini tak hanya memiliki bisnis pengelolaan pelabuhan, tapi sudah masuk ke bisnis komoditas, tepatnya pengolahan minyak sawit mentah (CPO).
Emiten perkebunan kelapa sawit, PT Austindo Nusantara Jaya Tbk., membukukan pendapatan sebesar US$151,70 juta pada tahun lalu.
Seperti sudah diperkirakan, kenaikan harga minyak mentah dunia pada awal pekan ini telah ikut memberikan sentimen positif bagi harga minyak sawit mentah (CPO), karena kedua komoditas ini digunakan sebagai biofuel.
Tahun ini saham-saham emiten perkebunan kelapa sawit diperkirakan masih akan dipengaruhi sejumlah sentimen positif, sehingga dapat menjaga kinerja.
Kinerja keuangan PT PP London Sumatra Tbk pada tahun lalu merosot akibat tekanan harga minyak sawit (CPO) yang berpengaruh terhadap lini bisnis.
Harapan akan positifnya pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) sepertinya sulit terwujud dalam waktu dekat ini di tengah munculnya perkiraan adanya perlambatan permintaan di pasar minyak sawit global sepanjang 2019 hingga tahun depan.
Di tengah tren pelemahan harga minyak sawit mentah (CPO) yang sudah memasuki hari keempat di zona negatif, muncul harapan dari kenaikan harga minyak mentah dunia yang dapat memberikan sentimen positif.
Harga minyak sawit mentah (CPO) kemungkinan akan melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sejak medio hingga akhir pekan lalu pada perdagangan awal pekan ini seiring minimnya sentimen positif yang dapat menggairahkan pasar.
Pengamat industri sawit Thomas Mielke mengatakan harga minyak sawit mentah (CPO) di Bursa Malaysia diperkirakan naik menuju kisaran RM2.350 hingga RM2.450 per ton dalam empat hingga enam bulan ke depan.
Produksi minyak sawit Malaysia dalam bahaya tren penurunan selama sembilan tahun, yang terutama disebabkan kesalahan pengelolaan yang memicu minimnya peremajaan tanaman sawit.
Meski pergerakan harga minyak sawit (CPO) fluktuatif belakangan ini, tapi outlook pasar komoditas, khususnya CPO, akan bullish.
Keputusan terbaru Uni Eropa (UE) untuk melarang minyak sawit untuk pembuatan biofuel pada 2020 di Eropa, selain sebagai tindakan diskriminasi, juga membawa kembali mental kolonial di sejumlah lahan perkebunan di Asia, seperti Indonesia dan Malaysia.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) menyatakan, perluasan mandatori biodiesel 20% (B20) kepada non-PSO sejak diberlakukan September 2018, mulai menunjukkan hasil positif berupa meningkatnya serapan minyak sawit (CPO) di dalam negeri untuk biodiesel sawit.
Harga minyak sawit diperkirakan bergerak di rentang RM2.300-RM2.400 per metrik ton tahun ini, yang didukung penetapan program biodiesel baik di Indonesia maupun Malaysia.
Malaysia berencana menghentikan (moratorium) seluruh perluasan lahan kelapa sawit tahun ini dalam upaya meredam tudingan industri sawit sebagai pemicu deforestasi.
Pada awal pekan ini, harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka bergerak positif dan bahkan menyentuh level tertinggi dalam sepekan.
Rencana pemerintah menurunkan pungutan ekspor bagi produk minyak kelapa sawit mentah (CPO) bertujuan mengurangi beban pengusaha kelapa sawit yang tengah menghadapi penurunan harga komoditas ini di pasar global.