Isu Perang Dagang AS-China Kembali Pengaruhi Harga CPO
Belum adanya tanda-tanda bakal selesainya ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China, memberikan tekanan terhadap harga minyak sawit mentah (CPO) awal pekan ini.
Kontributor
Belum adanya tanda-tanda bakal selesainya ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China, memberikan tekanan terhadap harga minyak sawit mentah (CPO) awal pekan ini.
Negosiasi yang terus dilakukan baik oleh Indonesia maupun Malaysia dengan sejumlah negara di Uni Eropa agar kebijakan untuk menghapuskan minyak sawit dalam pembuatan biofuel dibatalkan, diharapkan dapat menjadi sentimen positif bagi pasar.
Setelah memperingatkan Uni Eropa bahwa Malaysia akan melakukan tindakan balasan jika kawasan itu melarang impor minyak sawit, Perdana Menteri Dr Mahathir Mohamad akhir pekan lalu mengancam akan beralih ke China untuk pengadaan pesawat tempur.
Kalangan pemerintahan dan swasta Indonesia dan India akan menggelar pertemuan untuk memperkuat kerja sama perdagangan minyak sawit mentah (CPO).
Pada awal pekan ini, harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka diperkirakan menguat dengan merespons ekspektasi kenaikan permintaan minyak sawit dari India.
PT Mahkota Group Tbk (MGRO) tengah fokus untuk mengembangkan bisnis di sektor hilir.
Pemerintah kembali menghapus tarif pungutan ekspor kelapa sawit, CPO, dan produk turunannya sejak Maret hingga Mei 2019 nanti.
Sebagai pelaku industri kelapa sawit nasional, PT Sampoerna Agro Tbk. berkomitmen untuk mendukung program pemerintah yang dapat menyerap pasokan minyak sawit di pasar domestik.
PT Pertamina (Persero), RNI, dan PTPN III menjalin sinergi penyediaan bahan baku CPO, Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO), dan Bio Ethanol dalam rangka pengembangan energi baru dan terbarukan.
PT Mahkota Group Tbk. (MGRO) membukukan produksi minyak sawit mentah pada periode Januari hingga Februari tahun ini sebanyak 41.767 ton.
PT Sampoerna Agro Tbk. (SGRO) memprediksi margin perseroan berpotensi meningkat seiring dengan kenaikan harga minyak sawit mentah pada awal tahun ini.
PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) telah memproduksi minyak sawit mentah sebanyak 34.750 ton pada Februari tahun ini atau meningkat 6,6% dari periode yang sama tahun lalu.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menerbitkan kebijakan baru demi menyederhanakan proses dan meningkatkan efektivitas ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan produk turunannya.
Pasar komoditas, khususnya minyak sawit, saat ini lebih banyak dibayangi sentimen negatif ketimbang positif, sehingga sulit untuk mendongkrak harga.
PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR) selaku emiten perkebunan, akan melakukan ekspansi bisnis pada biodiesel tahun ini.
Minyak sawit (CPO) kini muncul sebagai isu panas yang akan 'membakar' hubungan dagang antara sejumlah negara produsen komoditas itu dengan Uni Eropa (UE).
Rentetan pelemahan harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka dalam sepekan terakhir masih tetap dipengaruhi oleh melambatnya permintaan.
PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) memperkirakan produksi pada kuartal I (Q1) tahun ini tidak sebaik tahun lalu karena pola musiman dalam bisnis kebun.
Masa depan minyak sawit kian suram di kawasan Uni Eropa setelah Benua Biru itu kembali mengeluarkan kebijakan yang merugikan industri sawit negara berkembang.
PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) tahun ini membidik pertumbuhan volume produksi kelapa sawit sebesar 5% hingga 10% dibandingkan realisasi pada tahun lalu.