Motoris Kelotok ini Mengaku Pernah Lihat Buaya Sepanjang Lima Meter di Sungai Lemiring
Lebih dari sekali motoris kelotok melihat buaya berukuran sangat besar tersebut.
Tag
Lebih dari sekali motoris kelotok melihat buaya berukuran sangat besar tersebut.
Sejumlah keanehan dinilai warga Ganepo terhadap komunitas buaya yang hidup di Sungai Lemiring, anak sungai Mentaya ini. Betapa tidak, pernah suatu waktu warga melihat ada sekitar 10 ekor buaya muncul di perairan, namun saat akan ditembak tiba-tiba senapan sang penembak rusak.
Sekda Kotim mengimbau masyarakat agar untuk sementara waktu menahan diri beraktivitas di sungai. Terutama pada saat sore menjelang maghrib
Ada dua pancing yang dipasang di sungai tersebut yakni di muara dan di dalam sungai tersebut. Namun upaya itu belum membuahkan hasil.
Salah satu opsi yang ditawarkan DPRD, seperti antaranya merelokasi buaya. Apabila masyarakat sendiri yang menangkapnya, maka rawan terjadi tindakan melawan hukum.
Pancing buaya tersebut akan dipasang di dua lokasi rawan. Satu diletakkan di Muara Sungai Lemiring, dan lainnya ditempatkan di dalam sungai.
BKSDA akan melakukan pemantauan langsung ke lokasi kejadian. Untuk mengetahui jenis buaya yang menyerang warga.
Korban yang diserang buaya, mengaku sebenarnya ia sudah melihat buaya berada di sekitar dirinya saat mandi.
Saat kondisi Yapqahu Kauli makin membaik pasca diserang buaya, sehingga bisa mengikuti UNBK 2018
Walaupun ada penduduk yang kembali diserang buaya di Sungai Lemiring anak Sungai Mentaya pada Senin (2/4/2018) kemarin, namun warga di sana tetap seperti biasa beraktivitas di sungai, seperti mandi dan mencuci.
Ibu korban sempat syok dan kaget. Untungnya, saat buaya melepaskan gigitan, ibu korban cepat membantu menolong anaknya.
Korban sempat ditarik buaya hingga ke sungai. Beruntung, buaya tiba-tiba melepaskan gigitannya dan korban selamat.
Pernyataan anggota DPRD ini beralasan karena sejauh ini belum ada tindakan konkret dari Pemkab Kotawaringin Timur untuk mengantisipasi dan melindungi warganya dari serangan buaya.
Akibat serangan buaya tersebut, saat ini ia tidak berani sama sekali pergi ke lanting (tempat mandi cuci di sungai). Bahkan hanya sekedar mendekati Sungai Mentaya pun selalu ia urungkan.
Sejak 2015 sedikitnya ada empat orang diserang buaya di desa tersebut, tepatnya Sungai Lemiring, anak Sungai Mentaya. Dan semuanya berhasil selamat.
Dirpolair Polda Kalteng Kombespol Badarudin langsung berkunjung ke rumah Jumiati (45) yang merupakan korban serangan buaya
Buaya itu disebutkan berbeda dari yang sering dilihat warga sekitar lokasi kejadian.
Saat didekati tim BKSDA, buaya langsung menghilang menyelam ke dalam sungai. Tetapi saat armada menjauh, buaya kembali menampakkan wujudnya.
Akibat cakaran buaya tersebut, siku kiri Jumiati mengalami luka cukup besar. Sedangkan telapak tangan kanannya luka akibat gigitan buaya tersebut.
Pengecekan lokasi untuk mengetahui sering atau tidaknya buaya muncul di lokasi yang terjadi insiden penyerangan terhadap warga.