Pacu Ekspor CPO Manfaatkan Perang Dagang AS Vs China
Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang terus bergulir berpeluang untuk meningkatkan ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia ke China.
Tag
Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang terus bergulir berpeluang untuk meningkatkan ekspor crude palm oil (CPO) Indonesia ke China.
Kinerja ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia dan produk turunannya seperti biodiesel dan oleochemical, hanya naik 10 persen pada periode Januari-Juni 2019.
BORNEONEWS, Pangkalan Bun - PT Prima Multi Terminal, anak perusahaan Pelindo 1, melakukan pengapalan ekspor perdana curah cair yang diangkut menggunakan Kapal MT Ocean Integrity pada Jumat (2/8/2019)…
Indonesia berpeluang menambah pangsa pasar minyak sawit mentah (CPO) di Argentina menyusul pembicaraan kesepakatan ekspor kedua negara.
Kinerja ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia terpukul oleh hambatan perdagangan di negara tujuan utama, terutama Uni Eropa dan India.
Kawasan Timur Tengah dan Afrika bisa menjadi pasar baru bagi produk sawit Indonesia dan turunannya dengan potensi mencapai lebih dari 1 juta ton.
Direktur Eksekutif Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono menyebutkan bahwa Indonesia saat ini menghadapi sejumlah kendala saat mengekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) ke pasar baru di Timur Tengah dan Afrika.
Ada pernyataan melegakan dari Norwegia terkait komoditas andalan Indonesia, yakni minyak sawit, yang belakangan ini semakin dipersulit masuk ke kawasan Uni Eropa.
Asosiasi Petani Plasma Kelapa Sawit Indonesia (APPKSI) meminta pemerintah mencabut kebijakan pungutan ekspor minyak kelapa sawit sebagai bentuk keberpihakan kepada petani kelapa sawit.
Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) memproyeksikan volume ekspor minyak kelapa sawit sepanjang tahun ini hanya tumbuh maksimal 3,4%.
Pasar minyak sawit akan mulai bergairah dalam beberapa bulan ke depan, terlebih segera datangnya bulan Ramadhan dan Idul Fitri yang diyakini akan meningkatkan permintaan.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menerbitkan kebijakan baru demi menyederhanakan proses dan meningkatkan efektivitas ekspor minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil (CPO) dan produk turunannya.
Rencana pemerintah menurunkan pungutan ekspor bagi produk minyak kelapa sawit mentah (CPO) bertujuan mengurangi beban pengusaha kelapa sawit yang tengah menghadapi penurunan harga komoditas ini di pasar global.
Meski sempat menjanjikan pada pekan lalu, namun harga minyak sawit mentah (CPO) kembali fluktuatif dan mengalami tekanan akibat sentimen global.
Seiring proyeksi penurunan produksi minyak sawit dan tingginya permintaan di pasar global, harga ekspor minyak sawit mentah (CPO) diestimasi akan meningkat tahun ini dibandingan 2018.
Upaya mendorong kinerja ekspor minyak sawit kembali menghadapi hambatan setelah Filipina merencanakan untuk menaikkan bea masuk (BM) terhadap produk minyak sawit asal Indonesia.
Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan harga referensi produk minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) untuk penetapan Bea Keluar (BK) periode Februari tahun ini sebesar US$565,40 per metrik ton (MT).
Kebijakan pemerintah mewajibkan penggunaan asuransi dan angkutan laut nasional berpotensi mengganggu kinerja ekspor minyak sawit mentah (CPO).
Apiknya kinerja ekspor diyakini akan membantu mendongkrak harga minyak sawit mentah (CPO) yang kini terus tertekan.
Industri perkebunan akan mengalami tekanan pada awal 2019, skema Comprehensive Economic Cooperation Agreement (CECA) yang disepakati Malaysia dan India mulai berlaku sehingga mengganggu kinerja ekspor Crude Palm Oil (CPO).