SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Bupati Kotawaringin Timur, Halikinnor prihatin terhadap kasus perundungan di lingkungan sekolah yang menyebabkan anak mengalami trauma hingga enggan bersekolah.

Ia menegaskan pentingnya pengawasan guru di sekolah serta peran orang tua dalam membimbing anak untuk mencegah perundungan terulang.

"Jadi kita sudah beberapa kali, termasuk edaran, dan saya minta juga guru-guru terutama yang memang setiap hari dengan anak-anak itu coba dimonitor, jangan hanya mengajar saja, memberikan pelajaran lalu tidak diawasi," kata Halikinnor, Rabu, 21 Oktober 2026.

Menurutnya pengawasan terhadap perilaku siswa tidak boleh berhenti pada kegiatan belajar mengajar. Guru perlu memantau interaksi antarsiswa agar dapat mendeteksi dan menangani sejak dini tindakan yang berpotensi mengarah pada perundungan.

Halikinnor menilai perkembangan teknologi juga menjadi tantangan dalam membimbing anak. Karena itu, pengawasan diperlukan agar anak menggunakan teknologi secara tepat dan memahami batasan dalam berinteraksi dengan teman sebaya.

"Ini harus tidak bisa lepas dari pengawasan guru-guru selama di sekolah. Begitu juga saya mengimbau orang tuanya. Bagaimana orang tuanya di rumah itu yang membimbing, membina anak ini, sehingga anak ini tahu batas, jangan sampai dirundung begini," ujarnya.

Ia menekankan bahwa pencegahan perundungan harus dilakukan secara bersama-sama, mulai dari lingkungan sekolah hingga keluarga.

Orang tua dinilai memiliki peran besar dalam membentuk karakter dan perilaku anak agar mampu menghargai orang lain serta tidak merendahkan teman yang dianggap memiliki keterbatasan.

Halikinnor mengaku prihatin ketika perundungan membuat anak kehilangan rasa aman di sekolah hingga memilih tidak masuk sekolah karena takut kembali menjadi sasaran.

"Saya menghimbau kita semua jangan sampai terjadi lagi, karena sering terjadi perundungan seperti ini. Anaknya usia itu yang masanya sekolah, akhirnya tidak mau sekolah hanya karena takut atau tidak mau karena selalu dibully, selalu dirundung di sekolahnya. Ini sangat memprihatinkan," tuturnya.

Ia menegaskan, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam mencegah kasus serupa. Selain guru dan orang tua, tokoh masyarakat serta tokoh agama juga diharapkan berperan menyampaikan pentingnya membangun lingkungan yang aman bagi anak.

Menurutnya, pembentukan budi pekerti sejak dini menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah anak melakukan perundungan terhadap teman di sekolah.

"Termasuk saya juga menghimbau itu, istilahnya ulama-ulama, tokoh-tokoh agama, baik agama apapun supaya juga menyampaikan hal-hal itu kepada seluruh masyarakat kita agar menjaga anak kita masing-masing. Paling tidak, kalau anak kita berbudi pekerti yang baik, tidak mungkin dia merundung temannya sesama sekolah," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/R)