Sudah Ada 4 Warga Kotim Jadi Korban Serangan Buaya di 2025 ini
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mencatat sudah empat kasus serangan buaya di Kabupaten Kotawaringin Timur dalam lima bulan terakhir.
Tag
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Resort Sampit mencatat sudah empat kasus serangan buaya di Kabupaten Kotawaringin Timur dalam lima bulan terakhir.
Seorang warga Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dilaporkan diserang buaya saat mencuci beras di Sungai Lenggana.
Nasib naas menimpa warga?Desa Tanjung Terantang Kecamatan Arut Selatan (Arsel), Kotawaringin Barat (Kobar), disambar buaya saat mengambil air wudhu di pinggiran sungai desa setempat,?pada Selasa waktu subuh, 30 April 2024.
Kepala Desa Satiruk Asra menjelaskan kondisi terkini warganya yang terkena serangan buaya di Desa Satiruk, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Seorang warga Desa Satiruk, Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menjadi korban serangan buaya.
Setelah beberapa jam melakukan pencarian, tim rescue? gabungan akhirnya menemukan jenazah Mohammad Ramdani (10 tahun) korban serangan buaya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Kumai, Sabtu, 10 Februari? 2024 pukul 15.45 WIB.
Setelah melakukan pencarian jasad korban serangan buaya yang terjadi di Sungai Arut, Kecamatan Arut Selatan (Arsel), Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) Sabtu, 25 November 2023, akhirnya ditemukan sekitar pukul 20.30 WIB.
Karena, memelihara buaya sendiri sangatlah berbahaya. Bahkan pemiliknya yang sudah sering memberikan makanan bisa saja diserang.?
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit, mengobservasi ke lokasi penyerangan buaya terhadap warga Desa Bagendang Tengah Ramban, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Selasa, 24 Mei 2022.?
Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit, Muriansyah mengaku telah mengetahui adanya kabar buaya menyerang manusia di Desa Bagendang Tengah, Kecamatan Mentaya Hilir Utara.?
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit mendata ada 2 kali dugaan serangan buaya di perairan Desa Bagendang Hulu, Kecamatan Mentaya Hilir Utara, Kotawaringin Timur.?
Pihak BKSDA sempat memasang jerat dan pancing selama 15 hari, namun buaya tak pernah tampak lagi
Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit mengunjungi Syahran (55), warga Desa Basirih Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, yang digigit buaya. BKSDA juga memberikan bantuan biaya berobat bagi kakek yang mengalami luka setelah memberi perlawanan terhadap buaya itu.
Komandan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit, Muriansyah mengatakan pihaknya akan segera mengecek lokasi serangan buaya di Sungai Sapihan, Desa Basirih Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kamis, 30 September 2021.
Seorang kakek bernama Syahlan (55), mengalami luka-luka lantaran diserang buayb?saat mandi di Sungai Sepihan Malang, anak Sungai Mentaya, Kelurahan Basirih Hilir, Kecamatan Mentaya Hilir Selatan, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kamis, 30 September 2021 sekitar pukul 16.00 WIB.
Dugaan kemunculan buaya di perairan muara Sungai Sampit, Desa Bagendang, Kecamatan Mentaya Hilir Utara,? tak bisa dianggap remeh. Pasalnya, di perairan tersebut pernah terjadi serangan buaya terhadap manusia.?
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit mengaku prihatin atas terjadinya serangan buaya terhadap manusia di Sungai Ranggau, Desa Sungai Perlu, Kabupaten Seruyan. BKSDA berharap, hal ini tak terjadi lagi di Kalimantan Tengah.
BKSDA menyimpulkan, latar belakang konflik ini terjadi karena habitat asli buaya rusak, dan mengalami penurunan pakan alami, buaya akan mencari wilayah baru untuk mencari makan
Buaya di Sungai Cempaga yang menyerang warga Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotim ternyata kerap muncul di malam hari.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Pos Jaga Sampit akan memasang jerat buaya di lokasi serangan buaya, Sungai Cempaga, Desa Sungai Paring, Kecamatan Cempaga, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).