BORNEONEWS, Tamiang Layang – Ribuan warga memadati Lubuk Ulu Padang di Desa Pulau Patai, Kecamatan Pematang Karau, Kabupaten Barito Timur, untuk menyaksikan kemeriahan Festival Nariuk VI, Sabtu, 25 Juli 2026. Festival budaya tahunan yang dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Barito Timur, Adi Mula Nakalelu, itu kembali menjadi magnet masyarakat sekaligus mempertegas eksistensi tradisi menangkap ikan secara tradisional sebagai warisan budaya Dayak.
Prosesi pembukaan ditandai dengan penancapan tariuk, yakni tombak tradisional yang digunakan untuk menangkap ikan, oleh Wakil Bupati Barito Timur bersama Kepala Desa Pulau Patai, Sumardi, dan tokoh adat. Setelah prosesi tersebut, ratusan peserta serentak turun ke sungai untuk mengikuti kegiatan inti Festival Nariuk, yaitu menangkap ikan secara tradisional menggunakan tariuk.
Suasana festival semakin semarak dengan kehadiran Ketua GOW Barito Timur, perwakilan DPRD Barito Timur, Wadanyon 924/Uria Mapas, Kabagops Polres Barito Timur, Plt Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Barito Timur, perwakilan perusahaan, para donatur, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta ribuan pengunjung yang memadati kawasan acara.
Tidak hanya menyuguhkan atraksi budaya, Festival Nariuk VI juga diramaikan bazar UMKM, hiburan musik, serta undian door prize yang menambah antusiasme masyarakat. Rangkaian kegiatan diawali sejak pukul 09.00 WIB dengan registrasi peserta, ritual adat tampung tawar, sambutan, hingga pelaksanaan Nariuk di aliran sungai.
Usai membuka festival, Wakil Bupati Barito Timur, Adi Mula Nakalelu, mengapresiasi seluruh pihak yang telah bergotong royong menyukseskan penyelenggaraan Festival Nariuk VI.
"Semoga Festival Nariuk ini menjadi contoh dan motivasi bagi desa-desa yang lain untuk mengadakan kegiatan-kegiatan positif di masyarakat termasuk untuk melestarikan budaya maupun menggerakkan kegiatan ekonomi di desa," ujar Adi saat diwawancarai.
Menurutnya, Festival Nariuk bukan sekadar hiburan, melainkan juga menjadi sarana melestarikan tradisi lokal yang sarat nilai budaya sekaligus mengedukasi masyarakat agar tetap menjaga kelestarian lingkungan. Ia berharap cara menangkap ikan secara tradisional seperti Nariuk terus dipertahankan sebagai bagian dari kearifan lokal yang ramah lingkungan.
"Saya juga berharap penyelenggaraan Festival Nariuk pada tahun-tahun selanjutnya dapat terus berlangsung meriah," tandasnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pulau Patai, Sumardi, mengatakan persiapan penyelenggaraan Festival Nariuk VI dilakukan selama kurang lebih dua minggu dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Ia menjelaskan festival sengaja digelar pada Juli sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Pemilihan waktu tersebut juga mempertimbangkan padatnya agenda peringatan HUT RI yang akan berlangsung pada Agustus di tingkat kabupaten maupun desa.
"Hingga hari ini peserta yang mendaftarkan diri berjumlah 269 orang," ungkap Sumardi.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Barito Timur melalui Disbudparpora, Karang Taruna, BPBD Damkar, perusahaan, para donatur, hingga Ketua DPC Pemuda Tani Indonesia Kabupaten Barito Timur, Ariane Sinta Nakalelu HA Garu, yang memberikan dukungan berupa hadiah utama dua unit sepeda listrik.
"Kami tetap memohon dukungan dari pemerintah daerah maupun bapak ibu donatur semua untuk penyelenggaraan Festival Nariuk pada tahun-tahun selanjutnya," katanya.
Festival Nariuk merupakan tradisi masyarakat Dayak di Barito Timur yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini mengangkat budaya menangkap ikan bersama-sama menggunakan tariuk, sejenis tombak tradisional, di aliran sungai.
Selain menjadi upaya melestarikan kearifan lokal, Festival Nariuk juga terus dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya yang mampu menarik kunjungan wisatawan, memperkuat kebersamaan masyarakat, sekaligus menggerakkan perekonomian desa melalui sektor UMKM dan pariwisata. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)









