BORNEONEWS, Sampit – Hujan deras mulai mengguyur sejumlah desa di Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), sejak Jumat (16/10/2026) dini hari. Hujan yang turun setelah kemarau panjang ini membawa harapan bagi warga di tengah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), namun masyarakat juga diminta mewaspadai potensi banjir.
Camat Cempaga Hulu M. Fahrizal Rahmani mengatakan, hujan mulai turun sekitar pukul 03.00 WIB atau sejak subuh. Sejumlah desa yang diguyur hujan di antaranya Desa Pelantaran, Keruing, Pantai Harapan, Bukit Raya, dan beberapa desa lainnya.
“Sejak subuh sekitar pukul 03.00 WIB hujan sudah turun di sejumlah desa. Hingga sekarang hujan semakin deras,” ungkap Fahrizal.
Turunnya hujan ini menjadi perubahan cuaca yang dinantikan setelah wilayah Kotim mengalami kemarau panjang yang turut meningkatkan risiko karhutla dan kabut asap.
Meski demikian, masyarakat diminta tidak lengah. Peralihan dari musim kemarau menuju kondisi yang lebih basah juga dapat memunculkan ancaman bencana lain, terutama banjir apabila hujan deras berlangsung dalam waktu lama dan menyebabkan peningkatan debit air.
Secara umum, perubahan cuaca di wilayah Kotim setelah kemarau panjang perlu diantisipasi karena hujan dengan intensitas tinggi dapat meningkatkan risiko genangan maupun banjir, terutama di wilayah yang memiliki kerawanan tertentu.
Fahrizal menegaskan, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Cempaga Hulu bersama para kepala desa tetap bersiaga untuk memantau perkembangan kondisi di lapangan.
Langkah antisipasi dilakukan dengan memantau wilayah rawan, mendata lokasi yang berpotensi terdampak, serta mengingatkan masyarakat agar tetap waspada terhadap perubahan ancaman bencana.
“Walaupun hujan ini patut disyukuri setelah kemarau panjang, kita tetap harus waspada. Kami bersama Forkopimcam dan para kepala desa terus memantau kondisi di lapangan, terutama di wilayah yang rawan bencana,” ujarnya.
Masyarakat diimbau untuk memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, khususnya apabila hujan deras terus berlangsung. Warga yang tinggal di daerah rendah maupun dekat aliran sungai diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan naiknya permukaan air.
Dengan kesiapsiagaan bersama, diharapkan dampak bencana dapat diminimalkan, seiring pergeseran ancaman dari karhutla selama musim kemarau menuju potensi banjir pada periode hujan. (DEVI/y)









