PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Seruyan – Ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan tidak menghentikan aktivitas literasi siswa SMP Tunas Agro, Kabupaten Seruyan.

Melalui Perpustakaan Cendekia, para siswa diajak menuliskan pengalaman, keresahan, hingga harapan mereka mengenai proses belajar di tengah dampak karhutla lewat Lomba Menulis Surat kepada Kepala Sekolah.

Lomba yang digelar dalam rangka Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda 2026 itu mengangkat tema “Pembelajaran Tatap Muka Terbatas: Dampak Karhutla di Kabupaten Seruyan.”

Kepala Perpustakaan Cendekia SMP Tunas Agro, Nopiar mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk mengasah kemampuan menulis siswa, tetapi juga memberi ruang agar mereka berani menyampaikan gagasan.

“Momentum Bulan Bahasa dan Hari Sumpah Pemuda menjadi pengingat bahwa kemampuan berbahasa dan keberanian menyampaikan gagasan merupakan bagian penting dalam membentuk generasi muda yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab,” kata Nopiar, Selasa, 20 Oktober 2026.

Persoalan kabut asap menjadi tema yang dekat dengan kehidupan siswa. Pada Agustus 2026, kondisi udara akibat karhutla di sejumlah wilayah Seruyan membuat aktivitas pembelajaran perlu disesuaikan.

Dinas Pendidikan Kabupaten Seruyan saat itu menerbitkan Surat Pemberitahuan Nomor 400.3.5.3/1888/DISDIK/VIII/2026 tentang kewaspadaan terhadap paparan asap.

Sekolah diminta meningkatkan langkah pencegahan, mulai dari penggunaan masker, pembatasan kegiatan di luar ruangan hingga pemeriksaan kesehatan apabila siswa mengalami keluhan akibat paparan asap.

Dalam kondisi tertentu, pembelajaran jarak jauh juga menjadi pilihan untuk mengurangi paparan terhadap peserta didik.

Namun, sistem belajar dari rumah bukan tanpa persoalan. Ketersediaan perangkat, jaringan internet, hingga pendampingan orang tua berbeda-beda bagi setiap siswa.

Situasi tersebut kemudian menjadi bahan refleksi dalam lomba menulis yang diikuti siswa kelas 7, 8, dan 9 SMP Tunas Agro.

Masing-masing peserta diminta menulis satu surat kepada kepala sekolah dengan bahasa Indonesia yang baik, santun, dan sesuai kaidah penulisan surat.

Isi surat dapat memuat pengalaman selama pembelajaran terbatas, dampak kabut asap terhadap kegiatan belajar, hingga usulan mengenai cara menjaga kesehatan dan keberlangsungan pendidikan.

Kepala SMP Tunas Agro Agus Maryanto mengatakan tulisan dapat menjadi ruang bagi siswa untuk memahami persoalan yang mereka hadapi sekaligus menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab.

“Di tengah ancaman karhutla dan berbagai keterbatasan yang menyertainya, literasi dapat menjadi salah satu jalan bagi siswa untuk memahami persoalan, menyuarakan kepedulian, serta menawarkan gagasan bagi perbaikan lingkungan dan pendidikan,” ujar Agus.

Menurutnya, keterbatasan pembelajaran tidak seharusnya mematikan semangat siswa untuk berpikir dan menyampaikan pendapat.

“Dari sepucuk surat kepada kepala sekolah, siswa belajar bahwa suara mereka penting dan gagasan mereka layak didengar,” katanya.

Penilaian lomba meliputi kaidah penulisan surat 30 persen, kesesuaian isi dengan tema 30 persen, kreativitas dan kekuatan gagasan 25 persen, serta bahasa, kesantunan, kerapian, dan keterbacaan 15 persen.

Periode penulisan berlangsung pada 19–24 Oktober 2026, sedangkan karya dikumpulkan pada 28 Oktober 2026 melalui Perpustakaan Cendekia SMP Tunas Agro.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai perlombaan, tetapi menjadi bagian dari upaya menjaga budaya literasi sekaligus membangun keberanian siswa menyampaikan pandangan terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan mereka. (*/j)