BORNEONEWS, Palangka Raya – Posko Penanganan Darurat Bencana (PDB) Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah mencatat 8.048 titik panas (hotspot) di seluruh wilayah provinsi pada update terbaru Sabtu, 24 Oktober 2026.
Data BRIN dan SiPongi itu dirilis dalam infografis harian pukul 18.00 WIB. Jumlah tersebut turun sekitar 49 persen dari 15.895 titik pada laporan sehari sebelumnya.
Hampir seluruh hotspot berkonfidensi sedang, yakni 7.963 titik. Sebanyak 60 titik berkonfidensi tinggi dan 25 titik rendah.
Pulang Pisau mencatat hotspot terbanyak dengan 1.830 titik. Berikutnya Kapuas (1.595), Seruyan (1.346), Kotawaringin Barat (1.137), Katingan (779), dan Kotawaringin Timur (702). Kota Palangka Raya tercatat 230 titik, Sukamara 221, dan Lamandau 173.
Wilayah dengan hotspot sangat sedikit adalah Barito Selatan (22 titik), Gunung Mas (8), Barito Timur (2), Barito Utara (2), dan Murung Raya (1).
Dalam periode yang sama, laporan mencatat 55 kejadian karhutla dengan luas terbakar 139,81 hektare. Jumlah kejadian naik empat dari 51 pada hari sebelumnya, sedangkan luas terbakar relatif sama dengan 140,31 hektare sehari sebelumnya.
Kapuas menjadi penyumbang luas terbesar, yaitu 13 kejadian seluas 67,5 hektare atau sekitar 48 persen dari total harian. Seruyan mencatat 10 kejadian seluas 23,7 hektare, Kotawaringin Timur 7 kejadian seluas 14,2 hektare, dan Kota Palangka Raya 11 kejadian seluas 11,01 hektare.
Kejadian di wilayah lain meliputi Sukamara 3 kejadian (7,2 hektare), Lamandau 2 kejadian (6,5 hektare), Katingan 3 kejadian (5,7 hektare), Kotawaringin Barat 3 kejadian (3 hektare), dan Barito Selatan 1 kejadian (1 hektare). Pulang Pisau melaporkan 2 kejadian dengan luas terbakar 0,00 hektare. Barito Timur, Barito Utara, Gunung Mas, dan Murung Raya tidak melaporkan kejadian.
Di lapangan, regu-regu Posko PDB melakukan 49 penanganan, seluruhnya berupa titik penanganan lanjutan tanpa titik baru. Luas lahan yang dipadamkan tercatat 1,87 hektare.
Luasan terbesar dicatat Regu 1 Posko PDB Damkar BPBPK (0,50 hektare), Posko PDB Polda Kalteng B dan Damkar Setwan Provinsi (masing-masing 0,40 hektare), Posko PDB Manggala Agni (0,28 hektare), dan MPA Kelurahan Kameloh Baru (0,25 hektare).
Laporan juga mencatat bahwa dari 28 titik CCTV pemantau di Kalimantan Tengah, hanya 9 titik yang dapat dipantau, sedangkan 19 titik lainnya kehilangan sinyal (lost signal). Hotspot merupakan indikasi titik panas dari satelit, sehingga jumlahnya tidak selalu sama dengan jumlah kebakaran di lapangan. (HERMAWAN DP/R)









