PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Akumulasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dari 1 Januari hingga 24 Oktober 2026 mencapai 7.007 kejadian dengan luas terbakar 20.247,99 hektare.

Total hotspot dalam periode itu tercatat 370.407 titik. Luas tersebut dihitung berdasarkan laporan lapangan kabupaten/kota ke Pusdalops PB Provinsi Kalteng.

Dalam sehari, angka akumulasi bertambah 55 kejadian, 139,81 hektare, dan 8.048 hotspot dari posisi 6.952 kejadian, 20.108,18 hektare, dan 362.359 titik pada laporan 23 Oktober.

Data bulanan menunjukkan aktivitas api rendah pada awal tahun. Hotspot Januari–Juni berkisar 121 hingga 897 titik per bulan, dengan 27 hingga 127 kejadian per bulan dan luas terbakar 16,60 hingga 219,56 hektare per bulan.

Lonjakan terjadi sejak Juli (3.236 hotspot), lalu Agustus (71.350 hotspot, 1.928 kejadian, 6.865,39 hektare).

September menjadi puncak dengan 151.027 hotspot, 2.423 kejadian, dan 7.535,28 hektare. Oktober hingga tanggal 24 sudah mencatat 142.697 hotspot, 1.711 kejadian, dan 3.969,11 hektare.

Selisih hotspot Oktober dengan total September tinggal 8.330 titik. Dihitung dari data itu, rata-rata hotspot per hari pada Oktober sekitar 5.946 titik, dibandingkan sekitar 5.034 titik per hari pada September.

Berdasarkan wilayah, Kotawaringin Timur mencatat lahan terbakar terluas, yakni 3.438,47 hektare. Disusul Pulang Pisau (3.094,98 hektare), Kotawaringin Barat (2.633,97), Kapuas (2.208,51), dan Seruyan (2.114,93).

Untuk hotspot, Pulang Pisau teratas dengan 69.871 titik, diikuti Kapuas (55.729), Kotawaringin Timur (53.538), Seruyan (45.726), dan Katingan (36.123).

Kejadian terbanyak ada di Kotawaringin Timur (1.315), lalu Kota Palangka Raya (968), Barito Timur (732), Seruyan (714), dan Kapuas (658).

Karhutla mendominasi bencana di Kalteng. Dari 7.256 kejadian bencana pada 1 Januari–24 Oktober 2026, sebanyak 7.007 kejadian atau sekitar 96,6 persen adalah karhutla.

Sisanya 137 kebakaran permukiman, 50 cuaca ekstrem, 47 banjir, 9 kekeringan, 3 abrasi, dan 3 tanah longsor. Kekeringan naik dari 8 menjadi 9 kejadian dengan tambahan satu kejadian di Katingan pada Oktober.

Menurut jumlah seluruh kejadian bencana, Kotawaringin Timur teratas (1.341), disusul Kota Palangka Raya (1.034), Barito Timur (733), Seruyan (713), dan Kapuas (673). Jumlah terendah ada di Sukamara (185) dan Murung Raya (198).

Status tanggap darurat karhutla berlaku di tingkat provinsi (30 September–29 Oktober 2026), Kota Palangka Raya (9–29 Oktober), Seruyan (16 September–31 Oktober), Pulang Pisau (15 September–13 November), Kotawaringin Barat (16–29 Oktober), dan Sukamara (15–28 Oktober). Status siaga darurat karhutla nihil.

Untuk kekeringan, status siaga darurat berlaku di Seruyan (1 Juli–31 Oktober 2026) dan Lamandau (4 Agustus–1 November 2026), sedangkan status tanggap darurat kekeringan berlaku di Pulang Pisau (15 September–13 November 2026). (HERMAWAN DP/R)