PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Selama empat hari terakhir, jumlah titik panas (hotspot) harian di Kalimantan Tengah turun tajam, tetapi kejadian dan luas karhutla yang dilaporkan di lapangan tidak ikut turun sebesar itu. Perbandingan Laporan Harian Posko PDB Karhutla periode 22–25 Oktober 2026 menunjukkan pola tersebut.

Hotspot harian tercatat 12.211 titik pada 22 Oktober, naik ke puncak 15.895 titik pada 23 Oktober, lalu turun menjadi 8.048 titik pada 24 Oktober dan 770 titik pada 25 Oktober. Dari puncak 23 Oktober, penurunannya sekitar 95 persen.

Sebaliknya, kejadian karhutla harian tercatat 65 (22 Oktober), 51 (23 Oktober), 55 (24 Oktober), dan 63 (25 Oktober). Luas terbakar harian bergerak dari 187,18 hektare menjadi 140,31, lalu 139,81, dan 137,27 hektare.

Jika dijumlahkan, empat laporan harian itu mencatat 234 kejadian dengan luas terbakar 604,57 hektare. Pada periode 22–25 Oktober, akumulasi tahunan naik dari 6.901 menjadi 7.070 kejadian, dari 19.967,87 menjadi 20.385,26 hektare, dan dari 346.464 menjadi 371.177 hotspot.

Kapuas menunjukkan tren turun yang paling konsisten. Kejadian harian di sana tercatat 19, 16, 13, lalu 7, dengan luas terbakar 130,2, 88,2, 67,5, dan 49,2 hektare. Hotspot Kapuas pada periode yang sama tercatat 2.553, 3.234, 1.595, dan 130 titik. Porsi Kapuas terhadap luas harian provinsi turun dari sekitar 70 persen menjadi sekitar 36 persen.

Kotawaringin Timur bergerak sebaliknya pada hari terakhir. Wilayah itu mencatat 19 kejadian pada 22 Oktober, lalu 2, 7, dan 24 kejadian pada 25 Oktober, sehingga menyumbang sekitar 38 persen dari seluruh kejadian harian provinsi pada hari itu. Luas terbakarnya 22,58, 5, 14,2, dan 14,4 hektare.

Kota Palangka Raya mencatat luas terbakar 9,02, 4,01, 11,01, dan 21,62 hektare pada empat hari itu, dengan kejadian 10, 3, 11, dan 6. Seruyan mencatat luas 8,1, 32,1, 23,7, dan 7,05 hektare, sedangkan Pulang Pisau mencatat kejadian 3, 9, 2, dan 8 dengan hotspot yang turun dari 2.783 menjadi 157 titik.

Dari sisi pemadaman, regu-regu Posko PDB melakukan 55 penanganan (6,24 hektare dipadamkan) pada 22 Oktober, 47 penanganan (1,71 hektare) pada 23 Oktober, 49 penanganan (1,87 hektare) pada 24 Oktober, dan 51 penanganan (3,71 hektare) pada 25 Oktober.

Status tanggap darurat karhutla masih berlaku di tingkat provinsi hingga 29 Oktober 2026, begitu pula di Kota Palangka Raya dan Kotawaringin Barat. Status itu berlaku hingga 28 Oktober di Sukamara, 31 Oktober di Seruyan, dan 13 November di Pulang Pisau. Hotspot merupakan indikasi titik panas dari satelit, sehingga jumlahnya tidak selalu sama dengan jumlah kebakaran di lapangan. (HERMAWAN DP/Y)