Analis: CPO Bisa Jatuh ke Level 2.197
Minyak sawit mentah (CPO) berjangka turun lebih dari 2 persen pada Selasa (18/9/2018) ke level terendah satu bulan karena ekspektasi kenaikan produksi.
Tag
Minyak sawit mentah (CPO) berjangka turun lebih dari 2 persen pada Selasa (18/9/2018) ke level terendah satu bulan karena ekspektasi kenaikan produksi.
Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka bergerak semakin melemah pada level RM2.222 setelah pada sesi sebelumnya ditutup di level RM2.243.
Analis Asia Tradepoin Futures, Deddy Yusuf Siregar, menyatakan harga Crude Palm Oil (CPO) bisa mengarah positif karena ekspor Indonesia ke India yang naik cukup tinggi.
Harga minyak sawit mentah (CPO) pekan ini dibayangi oleh sejumlah faktor negatif yang dapat menekan harga lebih rendah lagi.
Harga minyak sawit mentah (CPO) berpeluang melanjutkan kenaikannya pada akhir pekan ini, setelah menghentikan pelemahan dalam lima sesi terakhir ketika berakhir naik 0,3 persen di level RM2.243 pada Kamis (13/9/2018) berkat outlook permintaan yang kuat.
Pelemahan harga minyak sawit mentah (CPO) masih besar kemungkinan berlanjut pada Kamis (13/9/2018) setelah kemarin ditutup turun 1,3 persen di level RM2.237 karena data pesimistis dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB).
Setelah tutup pada perdagangan Senin dan Selasa, harga CPO berpeluang akan bergerak turun pada perdagangan Rabu (12/9/2018) setelah berakhir turun 0,5% di level RM2.266 pada akhir pekan lalu karena kenaikan cadangan minyak sawit serta anjloknya harga minyak nabati lainnya.
Harga minyak sawit mentah (CPO) pada akhir pekan ini kembali melemah ke level RM2.215 jika melihat grafik dari Trading View.
Meski nilai tukar ringgit Malaysia melemah terhadap dolar, yang dapat menjadi sentimen positif bagi penguatan harga minyak sawit mentah (CPO), tapi pasar masih dibayangi oleh proyeksi meningkatnya stok di Malaysia dan Indonesia.
Melemahnya nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk ringgit Malaysia dan rupiah, sebenarnya memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga minyak sawit (CPO).
Pergerakan harga minyak sawit mentah (CPO) saat ini dipengaruhi oleh sentimen positif dari proyeksi meningkatnya permintaan di tengah melemahnya rupiah dan ringgit Malaysia.
Tekanan bertubi-tubi dialami pasar komoditas minyak sawit mentah (CPO). Selain terimbas pelemahan minyak nabati pesaing, harga CPO juga tertekan anjloknya nilai tukar lira Turki.
Belakangan tekanan harga minyak sawit lebih dipengaruhi oleh pelemahan harga minyak nabati pesaingnya, terutama minyak kedelai.
Katalis negatif kembali akan mempengaruhi gerak harga minyak sawit mentah (CPO) seiring dengan prediksi kenaikan produksi komoditas tersebut di Indonesia tahun ini.
Rencana pemerintah yang mewajibkan penggunaan solar bercampur minyak kelapa sawit 20% (B20) dan berlaku pada 1 September 2018, diyakini akan mempengaruhi harga minyak sawit mentah (CPO).
Harga minyak sawit mentah (CPO) bergerak positif pada perdagangan Selasa (28/8/2018), bangkit dari level terendah satu pekan yang disentuh pada Senin.
Harga minyak sawit (CPO) diperkirakan mengalami tekanan dari penurunan volume ekspor Malaysia dalam 20 hari pertama Agustus antara 9,60-15,60% dibandingkan bulan yang sama Juli.
Harga minyak sawit (CPO) mengalami kenaikan berkat dukungan permintaan domestik Malaysia seiring dengan penurunan tajam stok inti sawit (PK) dan CPO masing-masing sebesar 11% dan 21,30%.
Pelemahan harga minyak sawit mentah (CPO) berpotensi berlanjut pada Kamis (16/8/2018) setelah kemarin ditutup turun 0,8% di level RM2.195 setelah sebelumnya turun ke level terendah sejak 3 Agustus di RM2.192.
Harga minyak sawit mentah (CPO) berpeluang menguat dalam jangka pendek pada perdagangan Rabu (15/8/2018) setelah ditutup naik 0,4% di level RM2.213.