PBB: Sudan Hadapi Krisis Pangan Terburuk dalam Dua Dekade Terakhir
Kantor Koordinasi urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyatakan Sudan sedang menghadapi krisis pangan terburuk dalam dua dekade terakhir.
Tag
Kantor Koordinasi urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) menyatakan Sudan sedang menghadapi krisis pangan terburuk dalam dua dekade terakhir.
Program Pangan Dunia (WFP) PBB, Jumat (3/5), menyuarakan kekhawatiran mengenai situasi di Sudan, dengan mengatakan bahwa negara Afrika tersebut berada di ambang "krisis kelaparan terbesar di dunia".
Kepala bantuan PBB pada Kamis memperingatkan agar penderitaan orang-orang di Sudan tidak semakin parah akibat perang yang sedang berlangsung di negara itu.
Militer Sudan pada Sabtu (15/7) menuding Pasukan Dukungan Cepat (RSF) menyerang sebuah rumah sakit dan menewaskan lima orang.
Sedikitinya?ada 87 warga sipil Sudan yang dimakamkan di kuburan massal di negara bagian Darfur Barat, Sudan, kata kantor hak asasi manusia PBB (OHCHR), Kamis.
Sindikat Dokter Sudan dalam sebuah pernyataan menyebutkan bahwa 3.215 orang lainnya juga terluka dalam perselisihan yang diwarnai kekerasan tersebut.
Sekretaris Jendral PBB Antonio Guterres, Jumat (12/5), menyambut baik kesepakatan antara para jendral yang bertikai di Sudan untuk memungkinkan aliran bantuan kemanusiaan yang aman di negara tersebut.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyampaikan ada 6-8 warga negara Indonesia di Sudan yang masih diupayakan untuk dikeluarkan Pemerintah Republik Indonesia dari Sudan menuju titik aman.
Dari jumlah sebanyak itu,?557 WNI sudah berada di Jeddah, Arab Saudi, untuk secara bertahap dipulangkan ke Indonesia.
Jeddah akan menjadi tempat singgah para WNI yang dievakuasi dari Sudan sebelum mereka diterbangkan ke Tanah Air.
Uni Eropa berhasil mengevakuasi staf dan lebih dari 1.000 warga negara anggota EU dari Sudan, kata?Kepala Kebijakan Luar Negeri EU Josep Borrell pada Senin (24/4).
China, Pakistan, dan India pada Senin mulai mengevakuasi warga negaranya dari Sudan yang dilanda konflik militer.
Sekitar 15 prajurit TNI dari Kopasgat itu tergabung dalam Tim Evakuasi WNI di Sudan yang totalnya sebanyak 39 orang.
Tim evakuasi TNI memprioritaskan warga negara Indonesia (WNI) yang hamil dan sakit, orang lanjut usia, dan anak-anak, untuk dipulangkan lebih dulu dari Sudan ke Indonesia.
Panglima TNI Laksamana TNI Yudo Margono di Jakarta, Senin, melepas keberangkatan 39 prajurit untuk mengevakuasi warga negara Indonesia (WNI) yang terjebak konflik bersenjata di Sudan.
Sejak 15 April, Sudan dilanda konflik bersenjata antara tentara nasional (SAF) dan paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF).
Sebelum diberangkatkan ke Jeddah melalui jalur laut untuk kemudian dipulangkan ke Tanah Air, mereka dibawa dan tiba di Kota Port Sudan pada Senin pukul 01.00 dini hari waktu setempat.
Seorang koresponden Anadolu di lapangan mengatakan pertempuran telah meluas ke Bahri dan Omdurman, kota-kota yang bersebelahan dengan ibu kota Khartoum, di mana konflik saat ini terjadi pada 15 April.
Kamis (20/4), Pentagon mengatakan bahwa AS sedang mengirim pasukan ke wilayah tersebut menjelang kemungkinan penarikan diplomat AS dari Sudan.
Kementerian Luar Negeri Korsel menaikkan peringatan perjalanan ke Sudan menjadi Level 4, atau tertinggi dalam sistem peringatan perjalanan bagi warganya.