Ditemukan Tewas Mengapung di Sungai Mentaya, Jenazah Moh Slamet Dimakamkan di Sampit
Jenazah Moh Slamet (51) yang ditemukan tewas mengapung di Sungai Mentaya, Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dimakamkan di Sampit.
Tag
Jenazah Moh Slamet (51) yang ditemukan tewas mengapung di Sungai Mentaya, Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dimakamkan di Sampit.
BORNEONEWS, Sampit - Identitas mayat pria yang ditemukan tewas mengapung di Sungai Mentaya, Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), pada Sabtu, 12 Oktober 2019 lalu,…
Saat ini jasad korban sudah berada di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr Murjani Sampit untuk dilakukan visum
Sesosok mayat laki-laki tanpa identitas ditemukan di tepi Sungai Mentaya, daerah Desa Ganepo, Kecamatan Seranau, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Sabtu, 12 Oktober 2019.
Pemkab Kotawaringin Timur (Kotim) akan melibatkan pawang buaya untuk memberikan keamanan terhadap pelaksanaan pariwisata berupa Mandi Safar di Sungai Mentaya Sampit pada 23 Oktober 2019 mendatang.
Pria berinisial MR (28) yang ditemukan tewas di Sungai Mentaya, Jalan Iskandar, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), murni karena tenggelam.
Jasad korban berinisial MR (28) yang tenggelam di Sungai Mentaya, Jalan Iskandar, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), akan divisum.
Korban tenggelam di Sungai Mentaya, berinisial MR (28), diduga tenggelam karena penyakit epilepsinya kambuh. Korban terjatuh ke sungai dan tidak bisa diselamatkan hingga meninggal dunia.
Seorang pemuda berusia 28 tahun tenggelam berinisial MR (28) tewas tenggelam di Sungai Mentaya, setelah mencuci sepeda pancal di lanting. Peristiwa itu terjadi pada Senin, 23 September 2019, sekitar pukul 17.00 WIB0
Kabut asap tebal yang terjadi di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) dalam beberapa hari terakhir tidak hanya berdampak terhadap masyarakat daerah ini saja. Namun hal itu juga membuat tim study alur Sungai Mentaya gagal terbang ke Sampit selama 2 hari.
Buaya kembali muncul di Sungai Mentaya. Kali ini satwa dilindungi tersebut menampakan diri di tengah sungai, tepatnya di depan Pusat Perbelanjaan Mentaya (PPM) Sampit, pada Senin, 17 September 2019.
Kabut asap yang menyelimuti Sungai Mentaya tidak memengaruhi keberangkatan kapal penumpang dan roro di Pelabuhan Sampit. Sejauh ini, belum ada kapal yang tertunda berangkat imbas kabut asap.
Kabut asap di Sungai Mentaya mengganggu aktivitas kapal roro yang melayani penumpang dan kendaraan di Pelabuhan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Sebab- jarak pandang menjadi terbatas/
Wakil Bupati Kotim Taufiq Mukri minta masyarakat terus mengurangi bahkan menghilangkan kebiasaan buang air besar (BAB) di Sungai Mentaya. Ini agar sungai tidak tercemar dengan kotoran yang dibuang.
aat ini ABUPI Koordinator Wialayah Kalimantan Tengah (Kalteng) akan melaksanakan studi kelayakan pendalaman dan pengelolaan serta peningkatan fasilitas alur pelayaran Sungai Mentaya
Anggota Komisi II DPRD Kotawaringin Timus I Abdul Kadir meminta agar pemkab setempat memberi imbauan dan penegasan kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke Sungai Mentaya/
Legislator meminta pemkab Kotim untuk kembali menyediakan closet atau tempat buang air kepada warga bantaran sungaj serta saluran PDAM, agar warga tidak lagi beraktivitas di sungai.
"Pembentangan merah putih sepanjang 520 meter ini merupakan simbol pemersatu dalam keberagaman suku, adat, ras dan agama yang ada di Indonesia, khususnya Kabupaten Kotim," kata Kapolres Kotim AKBP Mohammad Rommel.
"Jadikanlah simbol pembentangan bendera ini sebagai pemersatu bangsa. Menjadikan masyarakat semakin erat untuk menjaga keutuhan Kotim, dan tentunya NKRI," kata Supian/
Pembentangan kain menyerupai bendera kebangsaan Republik Indonesia itu dilakukan oleh Polres Kotim untuk merayakan puncak HUT Bhayangkara yang ke 72. Bendera itu terbentang dari pelabuhan penumpang Sampit, Kecamatan MB Ketapang hingga Kecamatan Seranau.