BORNEONEWS, Palangka Raya – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla tidak hanya berdampak pada jumlah pasien hewan yang mengalami gangguan pernapasan, tetapi juga memperparah gejala penyakit yang dialami kucing. Jika sebelumnya pasien umumnya hanya mengalami flu dan bersin, kini sebagian kucing datang dengan kondisi sesak napas hingga membutuhkan bantuan oksigen.
Dokter hewan Dinda Rahma Hadiputri, dokter praktik Paws Health Vet Clinic, mengatakan jumlah pasien kucing dengan gejala ISPA berupa flu dan bersin yang biasanya sekitar 10 ekor per bulan, meningkat menjadi sekitar 13–14 ekor dalam tiga bulan terakhir.
Meski peningkatan jumlah pasien tersebut tidak terlalu besar, Dinda menilai perubahan tingkat keparahan gejala justru menjadi persoalan yang perlu diwaspadai.
“Biasanya pasien kucing yang ISPA dengan gejala bersin dan flu itu 10 ekor per bulan. Jadi naik sekitar 13–14 ekor dalam tiga bulan terakhir ini,” ujar drh Dinda kepada Borneonews pada Minggu, 18 Oktober 2026
Menurut Dinda, sebelum kabut asap terjadi, pasien kucing yang mengalami gangguan pernapasan umumnya datang dengan keluhan ringan, seperti bersin dan flu. Namun, selama kabut asap menyelimuti wilayah tersebut, sejumlah pasien mengalami sesak napas yang membutuhkan penanganan lebih intensif.
Kucing dengan kondisi berat harus mendapatkan bantuan oksigen untuk membantu mengatasi gangguan pernapasan. Selain itu, tindakan medis dapat meliputi pemberian cairan infus dan obat-obatan sesuai kondisi pasien.
Perubahan gejala tersebut menjadi perhatian karena gangguan pernapasan yang awalnya terlihat ringan dapat berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Karena itu, pemilik hewan diimbau tidak mengabaikan gejala awal yang muncul pada kucing peliharaan.
Dinda menyarankan pemilik menjaga kucing tetap berada di dalam rumah selama kabut asap belum menghilang. Jika memungkinkan, kucing dapat ditempatkan di ruangan berpendingin udara atau AC yang dilengkapi pembersih udara (air purifier) untuk membantu mengurangi paparan polusi.
Pemilik juga perlu segera berkonsultasi dengan dokter hewan ketika kucing mengalami flu, bersin terus-menerus, atau menunjukkan perubahan pola pernapasan. Pemeriksaan sejak dini penting agar penanganan dapat diberikan sesuai kondisi hewan sebelum gejalanya semakin berat.
Dinda mengingatkan, biaya penanganan juga berpotensi lebih besar ketika kondisi kucing sudah parah dan membutuhkan bantuan oksigen maupun infus. Sebaliknya, pemeriksaan lebih awal dapat membantu menentukan tindakan yang diperlukan sejak gejala mulai muncul.
Ia berharap penanganan karhutla dapat dilakukan secara serius agar kabut asap tidak terus mengganggu kesehatan manusia maupun hewan. Bagi pemilik hewan, kewaspadaan dan penanganan sejak dini menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan selama kondisi udara belum membaik.(TESTI PRISCILLA)









