PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Hilangnya kemampuan berbahasa daerah dapat mengancam keberlangsungan identitas etnis suatu masyarakat. Temuan Prof. James T. Collins, Ph.D., pada masyarakat Dayak Tola' menunjukkan adanya percampuran kosakata dan pelafalan dengan bahasa Melayu lokal, di tengah keluhan generasi tua mengenai bahasa daerah yang semakin kehilangan tempat.

Peneliti dari Institut Kajian Etnik (KITA), Universiti Kebangsaan Malaysia, itu menjelaskan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi.

"Bahasa juga menjadi salah satu unsur penting yang menopang kesinambungan identitas, budaya, dan kehidupan sosial suatu kelompok," kata Prof Collins kepada Borneonews pada Jumat 23 Oktober 2026.

Dalam penelitiannya, Collins mengungkapkan bahwa sejumlah informan lanjut usia berusia sekitar 70 hingga 80 tahun mengeluhkan perubahan yang terjadi pada bahasa daerah mereka. Bahasa yang dahulu digunakan dalam kehidupan sehari-hari dinilai semakin tidak ditemukan pada masa sekarang.

Keluhan tersebut tergambar dalam ungkapan informan yang diwawancarai di Manjau pada 14 September 1998 dan dusun sekitarnya, termasuk Kepayan pada 28 September 1999. Mereka menyatakan, “Bahasa daerah tidak ada. Zaman datuk, ada bahasa. Sekarang tidak ada.”

Perubahan itu juga terlihat dari hasil pengujian kompetensi bahasa terhadap 32 informan berusia 11 hingga 81 tahun. Collins menemukan percampuran unsur leksikal atau kosakata dan pelafalan, tanpa memandang kelompok usia.

"Bahasa Tola' tampak mengalami perubahan ke arah bahasa Melayu lokal yang digunakan masyarakat setempat. Meski demikian, sebagian penutur, terutama mereka yang berusia di bawah 40 tahun, masih mengidentifikasi bahasa yang mereka gunakan sebagai bahasa Tola'," jelasnya.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa perubahan bahasa tidak selalu berjalan seiring dengan hilangnya identitas yang diakui penuturnya. Namun, ketika kemampuan menggunakan bahasa daerah semakin berkurang, salah satu unsur penting pembentuk identitas etnis juga berpotensi melemah.

Collins menilai keberlangsungan bahasa daerah tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan identitas masyarakat penuturnya. Hilangnya bahasa sebagai bagian dari ekologi sosial bukan hanya persoalan linguistik, melainkan juga berpotensi mengancam kesinambungan budaya dan tatanan kehidupan suatu kelompok etnis. (TESTI PRISCILLA/H)