PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Data Posko Penanganan Darurat Bencana (PDB) Karhutla Kalteng menunjukan kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan Tengah berada pada kategori berbahaya pada update terbaru Kamis malam, 22 Oktober 2026.

Stasiun Kantor Kecamatan Jekan Raya, Palangka Raya, mencatat angka tertinggi, yakni 1.300 dengan parameter kritis PM2.5.

Pada waktu yang sama, stasiun di Murung Raya mencatat ISPU 737, Gunung Mas 603, Katingan 596, Barito Selatan 515, dan Kotawaringin Timur 366. Seluruhnya dengan PM2.5 sebagai parameter kritis dan masuk kategori berbahaya, yaitu ISPU 300 ke atas.

Kondisi berbeda tercatat di Kotawaringin Barat. Stasiun di sana mencatat ISPU 113 dengan NO2 sebagai parameter kritis, sehingga masuk kategori tidak sehat (101–200).

Dampak kesehatan tercermin dari data surveilans. Pada minggu ketiga Oktober 2026 tercatat 7.044 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan 1.163 kasus diare di Kalimantan Tengah.

Secara akumulatif sejak Januari hingga 22 Oktober 2026, kasus ISPA mencapai 123.448 dan diare 28.015 kasus. Angka ini melengkapi gambaran dampak kabut asap yang bersamaan dengan memuncaknya karhutla pada Agustus–Oktober.

Untuk mengurangi paparan, tercatat 223 sekolah di kota/kabupaten menjalankan pembelajaran jarak jauh (PJJ), sementara sekolah tatap muka tercatat 0. Pemerintah juga menyiapkan 253 lokasi rumah oksigen, sedangkan unit mobil oksigen tercatat 0.

BMKG Kalteng memprakirakan tidak ada wilayah yang berpotensi hujan sedang hingga lebat pada 22–24 Oktober 2026. Hujan baru berpotensi turun pada 25–28 Oktober di 12 kabupaten/kota: Sukamara, Lamandau, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Barito Utara, Murung Raya, Kapuas, Pulang Pisau, Palangka Raya, dan Gunung Mas. Barito Selatan dan Barito Timur tidak termasuk.

Menurut BMKG, gelombang atmosfer Rossby terpantau aktif di Kalteng, dengan belokan angin dan konvergensi di bagian utara yang meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan.

Kelembapan udara yang relatif basah dan atmosfer yang cukup labil juga menambah potensi itu di wilayah tengah hingga utara.

BMKG mengimbau masyarakat tidak membakar lahan untuk tujuan apa pun dan mewaspadai kemudahan terjadinya karhutla serta penurunan kualitas udara.

Warga diminta mengurangi kegiatan di luar ruangan dan memakai masker saat di luar, terutama penderita gangguan pernapasan, anak-anak, ibu hamil, dan lansia. (HERMAWAN DP/R)