BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Fenomena El Niño tidak sekadar ditandai oleh kenaikan suhu muka laut di Samudra Pasifik. Fenomena iklim ini melibatkan interaksi antara lautan dan atmosfer yang dapat mengubah pola hujan di berbagai wilayah, termasuk Indonesia.
Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Palangka Raya, Nadya, menjelaskan El Niño berkaitan dengan peningkatan suhu muka laut di wilayah Pasifik tropis bagian tengah dan timur, terutama kawasan yang dikenal sebagai Niño 3.4. Perubahan tersebut memengaruhi sirkulasi atmosfer dan distribusi pembentukan awan di kawasan tropis.
Dalam penjelasannya, Nadya mengingatkan bahwa warna pada peta anomali suhu muka laut tidak bisa langsung digunakan untuk menyimpulkan wilayah mana yang paling terdampak El Niño. Setiap kawasan memiliki karakteristik suhu laut dan pola atmosfer yang berbeda.
“Jika di region Niño 3.4 suhu muka lautnya panas, untuk di wilayah maritim kontinental terutama di wilayah Indonesia, akan mengalami suhu muka laut yang dingin, begitu pula sebaliknya saat terjadinya La Niña,” kata Nadya, Jumat, 23 Oktober 2026.
Wilayah Indonesia berada di kawasan maritim kontinental, yaitu kawasan yang dikelilingi perairan luas dan memiliki dinamika laut-atmosfer tersendiri. Ketika El Niño berkembang, perubahan pola angin dan sirkulasi atmosfer dapat mengurangi pembentukan awan hujan di sebagian wilayah Indonesia. Namun, besarnya dampak tidak selalu sama di setiap daerah.
El Niño juga tidak berarti seluruh wilayah Indonesia mengalami kekeringan dengan tingkat yang seragam. Pengaruhnya terhadap curah hujan turut ditentukan oleh kondisi suhu muka laut di sekitar Indonesia, musim, serta faktor atmosfer lainnya. Karena itu, anomali suhu muka laut yang terlihat pada peta perlu dibaca bersama indikator iklim lain.
Sebaliknya, La Niña merupakan fenomena ketika suhu muka laut di kawasan Pasifik tropis bagian tengah dan timur lebih dingin daripada rata-rata. Dalam kondisi tertentu, La Niña dapat meningkatkan peluang curah hujan di Indonesia. Meski demikian, peningkatan hujan tetap bergantung pada kondisi regional dan waktu terjadinya fenomena tersebut.
Bagi Kabupaten Kapuas, pemahaman ini penting karena dampak El Niño tidak cukup dinilai hanya dari kondisi suhu laut di Pasifik. Perubahan curah hujan di wilayah setempat perlu dipantau melalui prakiraan musim dan pembaruan informasi BMKG, terutama ketika risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan masih menjadi perhatian.
BMKG sebelumnya memperkirakan El Niño pada 2026 dapat bertahan hingga awal 2027. Sementara itu, awal musim hujan di sejumlah wilayah diprediksi berlangsung pada awal hingga pertengahan November 2026. Peralihan menuju musim hujan tidak otomatis berarti curah hujan langsung tinggi atau merata di seluruh wilayah.
Dengan demikian, El Niño dan La Niña perlu dipahami sebagai fenomena iklim berskala besar yang memengaruhi pola cuaca melalui hubungan antara laut dan atmosfer. Untuk mengetahui dampaknya di Kapuas, masyarakat perlu mengikuti informasi iklim berdasarkan wilayah, bukan hanya menyimpulkan kondisi dari warna pada peta suhu muka laut. (SABRIANOOR/H)









