BORNEONEWS, Kuala Kapuas – Kabut asap tebal yang menyelimuti wilayah Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, mengganggu aktivitas feri penyeberangan Mawar-Hampatung pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Jarak pandang yang terbatas membuat penyeberangan sempat tertahan.
Sejumlah warga melaporkan, kondisi tersebut membuat aktivitas feri tidak bisa berlangsung lancar. Awak kapal harus mempertimbangkan keselamatan penyeberangan karena kabut asap menghalangi pandangan di sepanjang jalur sungai.
“Sempat tertahan, tidak melakukan penyeberangan. Kemudi takutnya berbahaya karena jarak pandang terbatas,” ujar Ibnu, warga di lokasi.
Aktivitas penyeberangan kembali berjalan setelah kabut asap mulai menipis. Meski demikian, kondisi udara di kawasan Kuala Kapuas masih diselimuti asap yang relatif tebal hingga siang dan sore hari.
Kabut asap dilaporkan paling parah terjadi pada pagi hari. Seiring berjalannya waktu, jarak pandang berangsur membaik, meski asap masih terlihat menyelimuti sejumlah kawasan.
Feri Mawar-Hampatung merupakan salah satu sarana penyeberangan yang menghubungkan Jalan Mawar di Kuala Kapuas dengan kawasan Jalan Trans Kalimantan di Hampatung, Kabupaten Kapuas. Jalur ini menjadi penghubung bagi warga dan pengguna jalan yang hendak menyeberangi Sungai Kapuas.
Gangguan akibat kabut asap berpotensi memengaruhi mobilitas masyarakat, terutama ketika jarak pandang tidak cukup memadai untuk mendukung keselamatan pelayaran. Kondisi tersebut membuat awak feri perlu lebih berhati-hati dalam menentukan waktu penyeberangan.
Di sisi lain, kabut asap yang bertahan sejak pagi hingga sore hari juga menambah kekhawatiran terhadap kualitas udara di Kuala Kapuas. Warga masih menghadapi paparan asap yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.
Sementara itu, angka indeks standar pencemar udara (ISPU) di Kuala Kapuas dilaporkan berada pada kisaran 1.500 hingga 2.000. (SABRIANOOR/H)









