BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah, telah mencapai 796 kejadian dengan total luas lahan terbakar 1.205 hektare hingga Minggu, 18 Oktober 2026. Di tengah penanganan kebakaran yang terus berlangsung, ancaman kabut asap turut menjadi perhatian menyusul catatan kualitas udara yang berada dalam kategori berbahaya.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan data tersebut tercatat dalam dashboard pemantauan karhutla BPBD Damkar. Selain jumlah kejadian dan luas lahan terbakar, sistem tersebut juga mencatat 1.799 titik panas atau hotspot yang menjadi bagian dari pemantauan kebakaran di wilayah setempat.
“Berdasarkan data hingga 18 Oktober 2026, tercatat 796 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 1.205 hektare. Selain itu, terdapat 1.799 titik panas yang tercatat dalam dashboard pemantauan,” ujarnya.
Ancaman karhutla tersebar di seluruh kecamatan di Barito Timur dengan tingkat kejadian dan luas kebakaran yang berbeda-beda. Kecamatan Karusen Janang mencatat jumlah kejadian tertinggi, yakni 165 kejadian dengan luas lahan terbakar 199,6 hektare. Disusul Kecamatan Paju Epat dengan 135 kejadian dan luas 164,6 hektare serta Kecamatan Pematang Karau dengan 117 kejadian.
Meski jumlah kejadiannya lebih sedikit dibandingkan Karusen Janang dan Paju Epat, Kecamatan Pematang Karau justru mencatat luas lahan terbakar terbesar, mencapai 233,1 hektare. Sementara itu, Kecamatan Dusun Timur mencatat 113 kejadian dengan luas lahan terbakar 70,9 hektare. Data tersebut menunjukkan bahwa banyaknya kejadian kebakaran tidak selalu berbanding lurus dengan luas lahan yang terdampak.
Rekapitulasi bulanan memperlihatkan bahwa Agustus dan September menjadi periode dengan intensitas karhutla tinggi. Pada Agustus 2026, tercatat 360 kejadian dengan luas lahan terbakar 420,8 hektare. Angka tersebut berlanjut pada September dengan 327 kejadian yang menghanguskan 558,9 hektare lahan.
Adapun sepanjang Oktober hingga pembaruan data pada 18 Oktober 2026, tercatat 60 kejadian dengan luas kebakaran mencapai 173 hektare. Parluhutan menegaskan bahwa pemantauan terhadap perkembangan kejadian, luas lahan terdampak dan sebaran titik panas tetap diperlukan untuk mengetahui kondisi kebakaran di lapangan.
“Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa karhutla masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Pemantauan terhadap kejadian kebakaran, luas lahan terdampak dan sebaran titik panas menjadi bagian penting dalam melihat kondisi di lapangan,” lanjutnya.
Di sisi lain, kondisi kualitas udara memperlihatkan situasi yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data dashboard BPBD Damkar, rata-rata Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) selama tujuh hari terakhir tercatat mencapai 833,1. Angka tersebut masuk dalam kategori berbahaya dan menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan di tengah meluasnya kebakaran hutan dan lahan.
Pada 15 Oktober 2026, nilai ISPU di Kecamatan Paju Epat tercatat mencapai 3.062. Kecamatan Paku menyusul dengan nilai 2.910, Raren Batuah 2.250, Dusun Tengah 1.914 dan Awang 1.850. Seluruh angka tersebut ditandai dalam kategori berbahaya pada dashboard pemantauan.
Dampak yang tercatat dalam sistem pemantauan juga mencakup persoalan kesehatan masyarakat. BPBD Damkar mencatat 713 kejadian wabah penyakit, dengan 326 jiwa terdampak diare dan 2.915 jiwa terdampak infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Besarnya jumlah warga yang tercatat terdampak ISPA menambah perhatian terhadap kondisi lingkungan di tengah ancaman kabut asap. Meski demikian, data tersebut perlu dibaca sesuai pencatatan yang tersedia dan tidak serta-merta membuktikan bahwa seluruh kasus ISPA disebabkan oleh karhutla.
Selain pemantauan kebakaran dan dampak kesehatan, BPBD Damkar juga mencatat penyaluran bantuan air bersih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Hingga pembaruan data tersebut, distribusi air bersih telah menjangkau 1.936 kepala keluarga dengan total volume mencapai 190.700 liter.
Sementara itu, pemantauan titik panas selama dua hari terakhir mencatat dua titik di Desa Juru Banu, Kecamatan Paju Epat, dengan jarak sekitar tiga kilometer serta satu titik di Desa Lalap, Kecamatan Patangkep Tutui, dengan jarak sekitar 0,3 kilometer. Dashboard juga mengidentifikasi enam desa berisiko tinggi yang belum tercatat mengalami kejadian karhutla sepanjang 2026 sebagai sasaran patroli dan pemantauan.
Parluhutan mengatakan berbagai indikator tersebut memberikan gambaran mengenai perkembangan kebakaran, kondisi kualitas udara, dampak kesehatan serta kebutuhan dasar masyarakat di Barito Timur. Data itu menjadi bagian dari pemantauan situasi karhutla hingga 18 Oktober 2026.
“Data ini memperlihatkan perkembangan karhutla sekaligus dampak yang perlu menjadi perhatian bersama. Pemantauan kondisi kebakaran, kualitas udara dan kebutuhan masyarakat tetap penting agar perkembangan situasi di Barito Timur dapat diketahui secara menyeluruh,” tutupnya. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)









