BORNEONEWS, Palangka Raya – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang menyelimuti Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, semakin menjadi perhatian. Pantauan Borneonews pada Minggu, 11 Oktober 2026, kondisi asap makin pekat di tengah belum berakhirnya ancaman karhutla yang melanda wilayah ini. Asap pekat hingga berwarna kuning melingkupi Kota Palangka Raya sejak pagi di hampir seluruh kawasan seperti Lingkar Luar, DA Tawa, Yos Sudarso, hingga RTA Milono.
Kabut asap yang terus bertahan menjadi persoalan serius karena berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat. Kondisi ini juga memperpanjang kekhawatiran warga terhadap paparan asap, terutama bagi anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.
Ancaman kesehatan akibat kabut asap bukan tanpa alasan. Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya mencatat sebanyak 10.240 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sepanjang Juni hingga awal Oktober 2026. Jumlah tersebut terdiri atas 1.849 kasus pada Juni, 2.293 kasus pada Juli, 3.104 kasus pada Agustus, dan 2.900 kasus pada September, ditambah 190 kasus hingga awal Oktober.
Pemerintah Kota Palangka Raya sebelumnya juga memperpanjang status tanggap darurat karhutla selama 30 hari, terhitung 9 Oktober hingga 7 November 2026. Perpanjangan tersebut menunjukkan bahwa penanganan kebakaran dan dampak asap masih membutuhkan perhatian serius serta upaya berkelanjutan dari berbagai pihak.
Kabut asap yang belum menunjukkan perbaikan signifikan juga mendorong Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya memperpanjang pembelajaran jarak jauh atau PJJ bagi peserta didik jenjang PAUD, SD, dan SMP pada 12 hingga 14 Oktober 2026. Kebijakan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara yang dinilai berisiko bagi kesehatan siswa.
"Serba salah juga kita ini, anak-anak sekolah PJJ terus tidak efektif karena saya ibu pekerja jadi tidak bisa mendampingi anak ikut PJJ, tapi dengan kondisi asap ini juga kita tidak mau anak-anak harus keluar rumah dan terpapar asap. Bingung kita ini," kata Sabella, salah seorang warga Kota Palangka Raya kepada Borneonews pada Minggu, 11 Oktober 2026.
Kondisi asap tidak hanya dipengaruhi kebakaran yang terjadi di dalam wilayah kota, tetapi juga dapat berkaitan dengan kebakaran di daerah sekitar. Arah dan kecepatan angin turut menentukan pergerakan serta penyebaran asap yang masuk ke wilayah permukiman.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, mengatakan bahwa di tengah kondisi tersebut, masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dengan membatasi aktivitas di luar ruangan ketika asap menebal, menggunakan masker yang sesuai, serta menutup pintu dan jendela apabila kondisi udara di luar memburuk.
"Warga juga perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami sesak napas, nyeri dada, atau gangguan pernapasan yang semakin berat," katanya.
Pemerintah Kota Palangka Raya telah menyediakan Dashboard Karhutla yang dapat digunakan masyarakat untuk memantau sebaran titik panas, kualitas udara, dan jarak pandang secara real time. Informasi tersebut dapat diakses melalui dashboard resmi Pemerintah Kota Palangka Raya.
Makin pekatnya kabut asap pada Minggu ini kembali menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat di permukaan. Pencegahan kebakaran berulang, pendinginan lahan yang masih berpotensi terbakar, serta pemantauan kualitas udara harus terus dilakukan agar dampak asap terhadap kesehatan dan aktivitas masyarakat tidak semakin meluas. (TESTI PRISCILLA/H)









