PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Akumulasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dari 1 Januari hingga 25 Oktober 2026 mencapai 7.070 kejadian dengan luas terbakar 20.385,26 hektare.

Total hotspot dalam periode itu tercatat 371.177 titik. Luas tersebut dihitung berdasarkan laporan lapangan kabupaten/kota ke Pusdalops PB Provinsi Kalteng.

Dalam sehari, angka akumulasi bertambah 63 kejadian, 137,27 hektare, dan 770 hotspot dari posisi 7.007 kejadian, 20.247,99 hektare, dan 370.407 titik pada laporan 24 Oktober.

Data bulanan menunjukkan aktivitas api rendah pada awal tahun, dengan hotspot Januari–Juni berkisar 121 hingga 897 titik per bulan.

Lonjakan terjadi sejak Juli (3.236 hotspot), lalu Agustus (71.350 hotspot, 1.928 kejadian, 6.865,39 hektare), dan mencapai puncak pada September dengan 151.027 hotspot, 2.423 kejadian, dan 7.535,28 hektare.

Oktober hingga tanggal 25 sudah mencatat 143.467 hotspot, 1.774 kejadian, dan 4.106,37 hektare. Selisih hotspot Oktober dengan total September tinggal 7.560 titik.

Dihitung dari data itu, rata-rata hotspot per hari pada Oktober sekitar 5.739 titik, dibandingkan sekitar 5.034 titik per hari pada September.

Hotspot Oktober di empat wilayah sudah melampaui total September: Kapuas (24.170 titik dari 16.967), Seruyan (23.901 dari 16.804), Katingan (18.325 dari 11.564), dan Kotawaringin Barat (17.443 dari 14.329).

Berdasarkan luas terbakar, Kotawaringin Timur menempati urutan teratas dengan 3.452,87 hektare. Berikutnya Pulang Pisau (3.110,48 hektare), Kotawaringin Barat (2.639,97), Kapuas (2.257,71), dan Seruyan (2.121,98).

Untuk hotspot akumulatif, Pulang Pisau teratas dengan 70.028 titik, disusul Kapuas (55.859) dan Kotawaringin Timur (53.568). Kejadian terbanyak tercatat di Kotawaringin Timur (1.339), lalu Kota Palangka Raya (974), Barito Timur (732), dan Seruyan (721).

Karhutla mendominasi bencana di Kalteng. Dari 7.320 kejadian bencana pada 1 Januari–25 Oktober 2026, sebanyak 7.070 kejadian atau sekitar 96,6 persen adalah karhutla. Sisanya 138 kebakaran permukiman, 50 cuaca ekstrem, 47 banjir, 9 kekeringan, 3 abrasi, dan 3 tanah longsor.

Menurut jumlah seluruh kejadian bencana, Kotawaringin Timur teratas (1.365), disusul Kota Palangka Raya (1.040), Barito Timur (733), Seruyan (720), dan Kapuas (680).

Status tanggap darurat karhutla berlaku di tingkat provinsi (30 September–29 Oktober 2026), Kota Palangka Raya (9–29 Oktober), Seruyan (16 September–31 Oktober), Pulang Pisau (15 September–13 November), Kotawaringin Barat (16–29 Oktober), dan Sukamara (15–28 Oktober).

Di sisi penegakan hukum, Polda Kalteng dan jajaran mencatat 83 laporan informasi, 55 laporan polisi, dan 49 tersangka. Laporan polisi itu terdiri atas 43 perorangan dan 12 korporasi.

Polres Kotawaringin Timur mencatat angka terbesar, yaitu 18 laporan informasi, 11 laporan polisi perorangan, dan 13 tersangka, disusul Polres Pulang Pisau dengan 11 tersangka. Seluruh 12 laporan polisi terhadap korporasi ditangani Ditreskrimsus. (HERMAWAN DP/R)