Literasi Berperan Penting untuk Mendorong Perubahan Kualitas Hidup
Kegiatan literasi dan penyediaan informasi berperan penting dalam mendorong perubahan kualitas hidup. Yakni menciptakan masyarakat yang mempunyai kemampuan literasi lebih tinggi.
Tag
Kegiatan literasi dan penyediaan informasi berperan penting dalam mendorong perubahan kualitas hidup. Yakni menciptakan masyarakat yang mempunyai kemampuan literasi lebih tinggi.
Kegiatan ini memiliki tujuan memperkuat peran perpustakaan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia melalui peningkatan kemampuan literasi yang meningkatkan kreativitas masyarakat dan mengurangi kemiskinan akses informasi
Perwakilan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Sudarto mengatakan untuk mengurangi angka kemiskinan dapat dibantu dengan penguatan literasi.
Sejumlah pemuda literasi Kabupaten Katingan mengadakan aksi sosial dengan mengunjungi anak yatim piatu sekaligus memberikan bingkisan berupa kelengkapan alat tulis.
Kepala Pusat Pengembangan Perpustakaan dan Pengkajian Minat Baca Perpustakaan Nasional atau Perpusnas Republik Indonesia, Deni Kurniadi, mengatakan bahwa stakeholder bidang perpustakaan baik di tingkat nasional, provinsi, maupun kabupaten, mempunyai peranan penting dalam pengembangan literasi.
Literasi adalah kualitas atau kemampuan melek huruf atau aksara yang didalamnya meliputi kemampuan membaca menulis
Pemerintah Kota Palangka Raya mengklaim sarana dan prasarana penguatan literasi masyarakat yang dimiliki pemerintah sudah cukup kuat.
Plt Asisten II Setda Kota Palangka Raya, Ikhwanudin mengajak generasi muda untuk membudayakan membaca buku literasi.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah, Slamet Winaryo mengatakan untuk dapat meningkatkan minat baca harusnya dimulai dari lingkungan keluarga.
Masyarakat, siswa maupun tenaga pendidik perlu sungguh-sungguh dalam menjaga konsistensi, keteguhan, dan penguatan dalam gerakan literasi nasional.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengingatkan pentingnya penguatan literasi yang harus dilakukan melalui gerakan terintegrasi.
Ketua Satgas Gerakan Literasi Nasional (GLN) Kemdikbud, Pangesti Wiedanti mengingatkan kepala sekolah dan guru jika penguatan literasi tidak harus dilakukan dengan menyuruh siswa membaca.
Pangesti meyakini kebiasaan membaca 15 menit sebelum Proses Belajar dan Mengajar (PBM), merupakan pintu masuk kegiatan literasi di sekolah.
Pihaknya tidak ingin kegiatan seperti sosialisasi, bimbingan teknis, maupun pelatihan, hanya bersifat melaksanakan agenda semata. Setiap kegiatan yang dilaksanakan harus memberikan dampak positif.
Untuk meningkatkan minat membaca di kalangan masyarakat dan siswa, pemerintah perlu melakukan terobosan positif. Salah satunya melalui gerakan literasi sekolah.
Rekomendasi ini bukan sekadar dicatat, tetapi harus ditindaklanjuti instansi publik yang memiliki kewenangan dan kewajiban.
Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan perpustakaan yang memfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya
Kegiatan literasi untuk kesejahtraan menjadi prioritas dalam mendukung program pengentasan kemiskinan
Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kapuas bersama Taman Kanak-Kanak Al-Abror menggelar Outbond Literasi di Taman Askari.
Pegiat literasi yang tergabung dalam Komunitas Payung Literasi berkunjung ke SD Aisyiah, Jalan Bukit Bondang, Tjilik Riwut Km 8 Palangka Raya. Dalam perbincangan, muncul obrolan soal para siswa yang seharusnya tumbuh dan berkembang dengan tontonan dan bacaan yang sesuai pula.