Kinerja Sektor Lapangan Usaha Kalteng Didorong Peningkatan Produksi Sawit
Kinerja sektor lapangan usaha di Provinsi Kalimantan Tengah didorong oleh peningkatan produksi Tandan Buah Segar atau TBS Kelapa Sawit pada 2023
Tag
Kinerja sektor lapangan usaha di Provinsi Kalimantan Tengah didorong oleh peningkatan produksi Tandan Buah Segar atau TBS Kelapa Sawit pada 2023
Kepala Divisi Program Pelayanan pada Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit atau BPDPKS, Arfie Thahar menjelaskan bahwa kontribusi produktivitas kelapa sawit dari petani swadaya atau petani yang mengelola lahannya sendiri ada 40 persen dan oleh perusahaan swasta sebesar 53 persen yang terjadi di lahan milik rakyat.
Vice President sekaligus Head Corporate Secretary Perseroan, Swasti Kartikaningtyas mengatakan bahwa PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS menargetkan produksi tandan buah segar atau TBS pada tahun 2023 mampu bertumbuh pada kisaran 10 persen hingga 15 persen.
Sekretaris Perusahaan Sawit Sumbermas Sarana, Swasti Kartikaningtyas mengatakan bahwa produksi emiten perkebunan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS di tahun 2021 yang mencapai 444.720 metrik ton CPO sebenarnya masih di bawah target dari perseroan.
Direktur Perseroan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS, M Syafril Harahap mengatakan bahwa saat ini Perseroan juga menjajaki opsi penjualan kepada buyer guna memaksimalkan penjualan, karena sempat ditutupnya keran ekspor oleh Pemerintah.
Saat ini masih terdapat ketimpangan produktivitas kelapa sawit antara perkebunan rakyat dengan perkebunan besar baik perusahaan negara maupun swasta.
Kepala Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDKS) Eddy Abdurrachman menyebut produksj?sawit?sepanjang 2020 meningkat. Di masa pandemi Covid-19 ini, Edy menyebut produksi sepanjang tahun mencapai 51,58 juta ton.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia atau BI Kalimantan Tengah Rihando menuturkan produksi sawit menurun karena banyak pegawai yang tidak memanen buah sawit dampak kabut asap.
PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) saat ini telah mengelola enam pabrik kelapa sawit (PKS) dan satu pabrik inti sawit di Kalimantan Tengah, dengan total kapasitas produksi hingga 2,25 juta ton minyak sawit mentah (CPO) per tahun.
Seiring pencapaian produktivitas tandan buah segar (TBS) sawit yang tinggi tahun lalu, PT Perkebunan Nusantara V menargetkan kenaikan produktivitas TBS untuk tahun ini sebesar 24,08 ton per hektare.
Saat ini pemerintah daerah pun tengah berusaha melakukan berbagai upaya, salah satunya dengan melayangkan surat resmi kepada Duta Besar (Dubes) Malaysia untuk Indonesia.
Penurunan performance perusahaan Malaysia itu bukan dampak langsung dari rendahnya harga minyak dunia saat ini, namun justru imbas dari adanya perubahahan peta politik dalam negeri Malaysia.
Seiring kian menipisnya cadangan minyak bumi, terobosan harus terus dilakukan Pertamina untuk meningkatkan produksi, salah satunya dengan memanfaatkan surfaktan berbasis sawit.
Sebagai produsen sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi besar mengembangkan surfaktan berbasis sawit yang dapat meningkatkan produksi minyak bumi tahap lanjut atau Enhanced Oil Recovery (EOR).
Berdasarkan catatan, Indonesia menghasilkan 42 juta ton minyak sawit per tahun, atau berkontribusi hingga 48 persen dari produksi minyak sawit mentah (CPO) dunia.
Sebagai penghasil minyak sawit terbesar di dunia, Indonesia terus dituntut untuk menggalakkan hilirisasi industi minyak sawit agar memiliki nilai tambah untuk memacu perekonomian nasional.
Emiten perkebunan di sektor kelapa sawit, PT Bakrie Plantations Tbk (UNSP), ingin membenahi kinerja dengan memperbaiki performa operasional sembari menyehatkan kondisi keuangan.
Produksi minyak sawit di Indonesia dan malaysia diperkirakan turun menyusul terganggunya proses panen sawit seiring dengan panjangnya masa liburan menjelang dan setelah Lebaran tahun ini.
Analis Binaartha Parama Sekuritas, Muhammad Nafan Aji, menyatakan tahun ini produksi pangan termasuk CPO dan produk sawit turunannya terbilang meningkat berkat kondisi iklim dan cuaca yang relatif stabil dan kondusif.
Gabungan antara kebijakan moratorium dan kampanye anti-sawit di sejumlah negara Eropa, diyakini akan membatasi ketersediaan lahan sawit menjadi hanya 3 hingga 4 juta hektare dari total konsesi yang telah disetujui.