Psikolog: Bentuk Karakter Anak agar Tidak Menjadi Pelaku Bullying
Psikolog keluarga Ketti Murtini mengingatkan bahwa orang tua perlu membentuk karakter anak sejak dini agar tidak menjadi pelaku?bullying?atau perundungan.
Tag
Psikolog keluarga Ketti Murtini mengingatkan bahwa orang tua perlu membentuk karakter anak sejak dini agar tidak menjadi pelaku?bullying?atau perundungan.
Keluarga dan teman merupakan sumber dukungan sosial dalam hidup agar seseorang mampu mendapatkan kebahagiaan, demikian kata psikolog sekaligus dosen Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Jakarta Sri Juwita Kusumawardhani.
Psikolog sekaligus dosen di Fakultas Pendidikan Psikologi Universitas Negeri Jakarta Sri Juwita Kusumawardhani mengatakan bahwa salah satu kunci meraih kebahagiaan adalah dengan menikmati momen saat ini.
Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Dr. Indria Laksmi Gamayanti., MSi., Psikolog mengatakan bahwa penting bagi orang tua untuk mengenal, memahami, dan melakukan pola asuh di era digital (digital parenting).
Ketua Umum Pengurus Pusat Himpunan Psikologi Indonesia, Prof. Dr. Seger Handoyo, mengatakan stigma kesehatan mental masih terjadi di masyarakat Indonesia dan perlu upaya untuk menghapus stigma tersebut.?
BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Unit Pelaksana Teknis Daerah Perlindungan Perempuan dan Anak (UPTD PPA) Kotawaringin Barat (Kobar), menggandeng psikolog untuk penanganan trauma sejumlah anak yang menjadi…
Psikolog dari Universitas Indonesia A. Kasandra Putranto mengingatkan perselingkuhan dapat menyebabkan trauma bagi korban.
Psikolog anak dari Universitas Indonesia Anastasia Satriyo, M.Psi mengatakan pentingnya mengajarkan anak untuk memiliki rasa simpati dan empati dengan sesama, sejak dini.
Psikolog keluarga Ketty Murtini, S.Psi, Psi mengingatkan bahwa seorang ayah secara psikologis memiliki peran yang penting dalam membentuk kepribadian dan karakter buah hatinya.
Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Analisa Widyaningrum mengatakan penting bagi masyarakat, terutama generasi muda yang sudah terpapar teknologi digital sejak dini (digital native), untuk secara sadar mengontrol penggunaan media sosialnya.
Psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada, Zahrah Nabila, M.Psi, Psikolog, mengatakan bahwa penting bagi setiap individu untuk menghargai segala proses untuk mengembangkan dirinya, termasuk dalam aspek kesehatan mental dan fisiknya.
Psikolog Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani dari Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia) mengatakan bahwa memberikan edukasi tentang bahaya perundungan siber dan membatasi waktu memegang gawai dengan jadwal atau durasi tertentu dapat mencegah anak dari perundungan siber.
Ketua Umum Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Dr. Indria Laksmi Gamayanti, M.Si, Psikilog mengatakan tidak semua orang yang melakukan tindakan bunuh diri memiliki ciri khusus, oleh karenanya masyarakat diharapkan peka dengan keadaan sekitar agar dapat melakukan pencegahan.
Psikolog dari Universitas Indonesia, Deasy M. Amrin, S.Psi memberikan kiat agar Anda tetap kalem,?cool, saat sedang stres, salah satunya dengan menikmati setiap tantangan yang dihadapi.
Psikolog anak, remaja dan keluarga Rosdiana Setyaningrum?menjelaskan depresi tak selalu ditunjukkan dengan ekspresi yang murung. Oleh sebab itu, penting untuk dapat mendekatkan diri agar lebih dapat memastikan kondisi?mood?maupun mental seseorang.
Psikolog anak Seto Mulyadi mengingatkan menjaga psikologis anak saat mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) secara terbatas sangat penting dilakukan terutama di masa pandemi COVID-19.
Dina berpendapat perlu dilihat apakah anak itu kehilangan kedua orang tuanya, atau hanya salah satunya. Begitu juga dengan kondisi ekonomi, dan tingkat pendidikannya pun harus didata. Sehingga penanganannya bisa lebih optimal
Penggunaan ponsel pintar atau?smartphone?di Indonesia kini tak lagi sekadar alat komunikasi, tapi juga sebagai alat bantu kegiatan sehari-hari bahkan menjadi salah satu ikon gaya hidup bagi segelintir orang, kata psikolog dari Universitas Indonesia A. Kasandra Putranto saat dihubungi ANTARA, Senin.
Psikolog anak dan keluarga Samanta Elsener, M.Psi., Psi, mengatakan terdapat beberapa faktor yang membuat pasangan suami-istri memilih untuk tidak memiliki anak (childfree / voluntary childlessness).
Pandemi membuat orang tua harus bekerja sekaligus merawat anak-anaknya di rumah secara bersamaan. Tak menutup kemungkinan, orang tua akan merasa lelah baik secara fisik maupun mentalnya.