BORNEONEWS, Buntok – Warga Desa Sarimbuah Kecamatan Gunung Bintang Awai (GBA), Barito Selatan krisis air bersih. Salah seorang warga Sarimbuah, Sabato mengatakan, pada musim kemarau seperti saat ini, pihaknya harus pontang-panting mencari sumber air bersih dari berbagai tempat.
Karena, sungai tempat pemandian umum airnya mengering serta keruh dan berbau busuk. Diperparah lagi dengan jamban (MCK) mau roboh.
“Untuk keperluan mandi, nyuci dan memasak harus mengambil air bersih dari sungai yang jaraknya kurang lebih 7 kilometer dari desa kami,” kata Sabato kepada Borneonews, Selasa (2/10/2018).
Ia berharap ada solusi untuk memenuhi kebutuhan air bersih, karena benar-benar krisis. Apalagi di musim kemarau seperti saat ini.
Ia membeberkan, kemarau kali ini tidak seperti tahun-tahun yang lalu. Kalau tahun lalu tidak sampai krisis air bersih.
--page
Namun kemarau kali ini, lanjut dia, sejumlah sarana air bersih seperti pompa tangan, sumur masyarakat, tasik, telaga dan danau di desa itu mengering semua.
Padahal ada 3 unit PAM STBMTA yang telah dibangun oleh Dinas Kesehatan pada tahun 2015 lalu menelan anggaran Rp300 juta. Namun tidak pernah berfungsi, hanya hidup satu kali saat serah terima pekerjaan.
Sementara itu, Kepala Dinkes Barsel, Djul K Palar menanggapi, proyek PAM STBMTA tersebut pihaknya hanya membangun fasilitas saja.
“Itu sudah kami serahkan ke desa untuk mengelolanya. Kalau tidak berjalan sebagaimana mestinya, itu kesalahan desa sendiri,” ucap dia. (URIUTU DJAPER/B-2)








