JAKARTA –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Di balik tudingan sebagai pemicu deforestasi, tanaman kelapa sawit ternyata menyimpan begitu banyak manfaat bagi manusia dan lingkungan. Selain manfaat kesehatan, sawit juga memiliki limbah yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.

Adalah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang telah berhasil membuktikan limbah sawit sebagai bahan bakar alternatif melalui serangkaian penelitian yang dilakukan. Pencapaian terbaru dari LIPI adalah keberhasilan mengonversi 150 liter bioetanol generasi kedua dari 1.000 kilogram tandan kosong kelapa sawit.

"Hitungan yang kami konversi di mana dari 1.000 kilogram tandan kosong sawit, kami menghasilkan 150 liter etanol dengan fuel grade 99,95 persen," kata peneliti utama bioetanol Pusat Penelitian Kimia LIPI, Yanni Sudiyani, dalam acara diskusi bertajuk Prospek Pengembangan Bioetanol Generasi 2 dalam Mendukung Konversi Bahan Bakar Fosil di Jakarta medio pekan ini.

Yanni menuturkan penggunaan bioetanol dapat mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca lebih besar dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

Menurut dia, implementasi bioetanol sebagai energi baru terbarukan akan diwujudkan dalam teknologi pencampuran (blending) bioetanol dan premium sebagai bahan bakar ramah lingkungan.

--page

Yanni mengatakan bahan bakar nabati menjadi penting demi masa depan karena tidak selamanya dapat bergantung pada bahan bakar fosil yang lambat laun persediaanya akan habis.

Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar mempunyai beberapa keunggulan, salah satunya memiliki kandungan oksigen yang tinggi, yakni 35 persen, sehingga lebih ramah lingkungan dibandingkan bahan bakar fosil.

Pengembangan energi terbarukan sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati sebagai bahan bakar lain seperti bioetanol.

Pemerintah Indonesia juga menargetkan penurunan emisi pada 2030 sebesar 29 persen dengan usaha sendiri dan hingga 41 persen jika ada dukungan internasional. (NEDELYA RAMADHANI/m)