BORNEONEWS, Palangka Raya – Jumlah investor pasar modal di Kalimantan Tengah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam setahun. Hingga Agustus 2026, jumlah investor tercatat mencapai 277.328 investor, naik dari 130.330 investor pada Agustus 2025.
Hal ini disampaikan dalam penyelenggaraan Puncak Bulan Inklusi Keuangan atau BIK Tahun 2026 di Kabupaten Kotawaringin Barat. Kegiatan ini mengusung tema, “Akses Keuangan Merata, Ekonomi Berdaya, Masyarakat Sejahtera.”
Kepala Otoritas Jasa Keuangan atau OJK Provinsi Kalimantan Tengah, Primandanu Febriyan Aziz, menyampaikan peningkatan tersebut mencerminkan semakin besarnya partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan instrumen investasi di pasar modal.
"Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) turut berkontribusi dengan mencatatkan 32.800 investor atau 11,83 persen dari total investor di Kalimantan Tengah," kata Primandanu pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Jumlah tersebut menempatkan Kobar pada posisi ketiga terbanyak setelah Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kabupaten Kapuas.
Tidak hanya dari sisi jumlah investor, aktivitas transaksi saham di Kobar juga mengalami peningkatan.
"Nilai transaksi saham naik dari Rp13,29 miliar pada Agustus 2025 menjadi Rp20,16 miliar pada Agustus 2026," tuturnya lagi.
Kenaikan tersebut menunjukkan perkembangan partisipasi masyarakat dalam aktivitas investasi pasar modal di daerah. Namun, pertumbuhan jumlah investor perlu diikuti pemahaman yang memadai mengenai karakteristik produk investasi, potensi keuntungan, serta risiko yang menyertainya.
Selain pasar modal, perkembangan positif juga terlihat pada industri dana pensiun di Kalimantan Tengah.
"Aset dana pensiun tercatat meningkat 3,9 persen, dari Rp114,84 miliar pada Agustus 2025 menjadi Rp119,42 miliar pada Agustus 2026," jelasnya.
Pertumbuhan aset dana pensiun tersebut menjadi salah satu indikator meningkatnya perhatian terhadap pengelolaan keuangan jangka panjang dan persiapan kebutuhan finansial pada masa mendatang.
Primandanu menekankan pentingnya penguatan literasi keuangan agar masyarakat dapat memanfaatkan berbagai instrumen keuangan secara bijak, sesuai kebutuhan dan profil risiko masing-masing.
Dengan pemahaman yang baik, masyarakat diharapkan tidak hanya terdorong untuk berinvestasi, tetapi juga mampu menentukan pilihan produk keuangan secara rasional dan mempertimbangkan tujuan keuangan jangka panjang.
Peningkatan jumlah investor pasar modal dan aset dana pensiun ini menjadi bagian dari perkembangan sektor jasa keuangan di Kalimantan Tengah. OJK bersama para pemangku kepentingan terus mendorong perluasan akses keuangan yang diimbangi dengan peningkatan literasi dan pelindungan konsumen. (TESTI PRISCILLA/H)









