BORNEONEWS, Palangka Raya - Palangka Raya perlahan menorehkan jejak di peta perdagangan global. Dari tangan-tangan pelaku usaha kecil, produk bernuansa etnik Kalimantan Tengah kini melintasi samudra, menuju Selandia Baru.
Sebanyak 17 UMKM asal Kota Palangka Raya mengirimkan lebih dari 300 unit produk dalam pengiriman ekspor perdana ke negara tersebut. Bukan sekadar angka, langkah ini menjadi penanda bahwa produk lokal Kalteng mulai mendapat tempat di pasar internasional.
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, UKM dan Perindustrian Kota Palangka Raya, Samsul Rizal, menyebutkan bahwa produk yang dikirim beragam, mulai dari tas kombinasi rotan, furnitur, hingga berbagai kerajinan tangan khas daerah yang sarat nilai budaya.
“UMKM yang mengikuti pengiriman ekspor perdana ini memiliki total 300 lebih unit produk yang dikirim,” ujar Samsul di Palangka Raya, Selasa, 23 Desember 2025.
Ia menjelaskan, sebelum pengiriman dilakukan, para pelaku UMKM telah melalui proses komunikasi dan koordinasi terkait standar produk yang disyaratkan pasar Selandia Baru. Penyesuaian kualitas menjadi kunci agar produk lokal dapat diterima di pasar global.
Di balik keberangkatan produk tersebut, terdapat tantangan biaya logistik. Tahun ini, biaya pengiriman ekspor sebesar Rp30 juta per sekali kirim masih disubsidi oleh pihak pengekspor. Ke depan, Pemerintah Kota Palangka Raya diharapkan dapat ikut memberikan dukungan pembiayaan agar program ekspor berkelanjutan.
Bagi pelaku UMKM, ekspor ini bukan hanya soal transaksi, tetapi juga suntikan semangat. Sundari, salah satu pelaku UMKM, mengaku bersyukur produknya akhirnya bisa menembus pasar luar negeri.
“Kami berterima kasih kepada pemkot dan para pihak yang telah memfasilitasi produk kami hingga bisa tembus ekspor. Hal ini menjadi motivasi untuk terus mengembangkan usaha,” katanya.
Pengiriman produk UMKM ini difasilitasi oleh Hairunnisa, pemilik Galeri Lifestyle Nusantara sekaligus perusahaan Exquisite Wood Limited di Selandia Baru, bersama suaminya Rodney Taua atau Sidik.
Menurut Hairunnisa, tujuan utama dari inisiatif ini bukan semata-mata bisnis. “Kami hanya ingin membuktikan bahwa UMKM Palangka Raya mampu bersaing di pasar mancanegara,” ujarnya.
Ia berharap, langkah ini dapat menjadi pemantik semangat bagi UMKM lain untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk agar berani menatap pasar global.
Wakil Wali Kota Palangka Raya, Achmad Zaini, menilai produk UMKM yang mengusung nilai etnik dan budaya Kalteng memiliki daya tarik kuat, tidak hanya di Selandia Baru tetapi juga di pasar Eropa.
“Pasar Eropa sangat menghargai etnik dan budaya. Produk Kalteng memiliki potensi besar untuk dipasarkan secara internasional,” katanya.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa standarisasi kualitas masih menjadi tantangan utama. UMKM dituntut untuk terus berbenah agar mampu bersaing secara berkelanjutan, bukan hanya sekali menembus ekspor.
Dari rotan, kayu, hingga sentuhan budaya lokal, langkah kecil UMKM Palangka Raya kini telah melangkah jauh—menyapa pasar dunia dari jantung Kalimantan Tengah.








